[Video:] Persaudaraan Sunni dan Syiah di Iran, Pra dan Pasca-Revolusi Islam

0
1687

Teheran, LiputanIslam.com –  Rasa persaudaraan Sunni-Syiah di Iran terwujud bukan sejak kemarin sore, melainkan bahkan juga sudah tersurat sejak pra-revolusi Islam Iran di era pengasingan.

Pemimpin Besar Iran Ayatullah Sayid Ali Khamenei pernah mengatakan, “Di Iranshahr saya duduk bersama dengan para ulama Sunni kota ini, ketika saya diasingkan sehingga pihak aparat sama sekali tak memperkenan kami melakukan upaya apapun. Meski demikian kami duduk bersama mereka (para ulama Sunni), kami mengajak mereka  untuk berbuat sesuatu demi memperlihatkan  suatu tanda persatuan Syiah-Sunni di kota ini. Gagasan Pekan Persatuan Islam terlintas di benak kami saat itu, dan ini kami implementasikan di Iranshahr.”

Pasca revolusipun, Imam Khomaini mengatakan, “Lihatlah semua orang dengan satu kacamata yang sama, warna mazhab dan ras jangan sampai memiliki makna. Persatuan antara saudara-saudara Ahlussunnah dan saudara-saudara Syiah (di Iran) sudah terwujud, dan ufuk kekuatan Islam ini tak akan pernah terlupakan.”

Revolusi Islam juga telah membukakan cakrawala penelitian bagi warga Ahlussunnah.  Kementerian Bimbingan Islam mengambil keputusan supaya pesantren-pesantren saudara-saudara Ahlussunnah dan pusat-pusat keilmuan mereka mendapat prioritas.

Warga Ahlussunnah juga menunaikan keyakinannya kepada revolusi Islam dan perang pertahanan dengan berpartisipasidi kubu-kubu pertahanan dan mempersembahkan ribuan syuhada.

Kini setelah 40 tahun berlalu mereka juga berada di satu jalur yang sama, berpartisipasi dan membahu-bahu dengan warga Syiah. Posisi warga Ahlussunnah pada jabatan pemerintahan hingga duta besar dan bahkan komandan militer dalam revolusi Islam semakin menguat.

Pemerintahan Iran periode ke-13 pun juga  berkeinginan untuk lebih memperlihatkan peran serta Ahlussunnah.

Presiden Republik Islam Iran Sayid Ebrahim Raisi mengatakan, “ Status sebagai orang Iran saja sudah cukup untuk memiliki semua hak sipil.”

Dan sekarang Musa Abdul Salam Karimi dipilih untuk memangku sebuah jabatan penting. Dia adalah pria berusia 54 tahun, putra seorang syahid, penyandang gelar doktor bidang bahasa dan sastra Arab serta pemilik sertifikat ijtihad dari Markas Besar Islam Iran Barat.  Dia adalah salah satu warga Muslim Ahlussunnah Iran.

Atas dekret Presiden Raisi, kini dia diangkat sebagai penasehat presiden untuk urusan etnis serta umat agama dan mazhab minoritas.   Jabatan komandan militer hingga rektor universitas serta asistensi di bidang pendidikan dan tarbiyah Provinsi Kurdistan dan direktur Pusat Ilmu Keislaman Sanandaj  juga mewarnai karirnya. Dia juga dipandang sebagai salah satu pemuka Ahlussunnah.

Perjalanan karir  Karimi menarik perhatian Presiden Raisi  sehingga dalam sebuah dekret dia meminta kepadanya menangani masalah etnis dan keagamaan dengan mengedepankan prinsip keadilan, spirit revolusi, dan dengan semangat pemberantasan korupsi.

Penasehat Presiden Iran Urusan Etnis dan Agama Minoritas, Musa Abdul Salam Karimi, mengatakan, “ Sesuai konstitusi yang merupakan ikrar kita semua serta pandangan-pandangan Pemimpin Besar (Ayatullah Khamenei) dan pandangan-pandangan bernilai Presiden Raisi, kami berusaha untuk dapat memberikan pengabdian, betapapun kecilnya, bagi rakyat, bagi semua etnis dan bagi negeri ini secara keseluruhan, insya Allah.”

Presiden Iran meminta supaya persatuan dan solidaritas antar etnis diutamakan. Hasilnya, pengangkatan  Karimi menunjukkan bahwa penanganan urusan etnis dan umat beragama di bawah pengelolaan seorang warga Ahlussunnah merupakan bagian dari skala prioritas, dan tentu juga menunjukkan bahwa kedudukan Ahlussunnah dalam pemerintahan ini juga sangat penting. (mm/sahara/irib)

Baca juga:

Survei Gallup: Kepuasan Publik Iran kepada Presiden Raisi Jauh Melampaui Rouhani

Buka Konferensi Persatuan Islam, Presiden Iran: Makar Perpecahan Islam Melanda Negara-Negara Islam

DISKUSI: