Buka Konferensi Persatuan Islam, Presiden Iran: Makar Perpecahan Islam Melanda Negara-Negara Islam

0
389

Teheran, LiputanIslam.com –   Presiden Iran Sayid Ebrahim Raisi menyatakan bahwa upaya makar untuk memecah belah umat Islam kini sedang berlangsung di berbagai negara Islam di Timteng dan menuntut semua pihak untuk berusaha melawan konspirasi tersebut.

“Sekarang di semua negara kawasan, termasuk Irak, Suriah, Afghanistan, Lebanon dan Yaman kita menyaksikan adanya upaya perpecahan dan konspirasi musuh Islam, dan kita semua harus berusaha melindungi umat Islam di depan konspirasi ini,” ungkap Raisi dalam pidato pembukaan Konferensi Persatuan Islam ke-35 yang diselenggarakan di Teheran pada momen Pekan Persatuan Islam, peringatan yang diadakan setiap tahun dalam rangka menyambut Maulid Nabi Muhammad saw, Selasa (19/10).

Dia menyebutkan bahwa umat Islam adalah satu-satunya kekuatan penting yang berhadapan dengan sistem hegemoni global.

“Sistem hegemoni menebar syubhat dan perselisihan di antara umat Islam dengan menggunakan kekuatan medianya sebagai upaya untuk melemahkan komponen kekuatan Islam. Namun, sumber daya manusia yang efektif serta para ilmuwan dan ulama adalah energi terbesar serta kekuatan dan kesempatan bagi umat Islam yang harus berdiri menghadapi konspirasi musuh-musuh persatuan dan keharmonisan umat Islam,” ungkapnya.

Dia menjelaskan, “Setelah runtuhnya Uni Soviet dan terbentuknya sistem monopolar, sistem hegemoni memandang hanya ada satu kekuatan yang menghadangnya, yaitu kekuatan besar Islam. Karena itu, mereka lantas melakukan berbagai upaya untuk melumpuhkan kekuatan ini, termasuk dengan membentuk kelompok-kelompok takfiri di tengah umat Islam serta memberi dukungan dana dan senjata kepada mereka untuk genosida dan penjarahan di tengah umat Islam. Penebaran syubhat di tengah umat Islam dengan menggunakan arus media dan imperium pemberitaan serta pembangkitan perselisihan di tengah umat Islam dengan cara melibatkan pemerintahan-pemerintahan yang lemah mental dan orang-orang yang mencari normalisasi hubungannya dengan rezim-rezin keji semisal rezim Zionis adalah bagian dari tindakan sistem hegemoni terhadap umat Islam.”

Dia menambahkan, “Penistaan hal-hal yang disucikan, pemisahan negara-negara Islam satu sama lain dan eksploitasi para ilmuwan di tengah umat Islam juga merupakan bagian tindakan sistem hegemoni untuk melamahkan dan mencegah terbentuk dan menguatnya umat Islam. Sebagaimana dahulu berusaha mengeksploitasi bangsa-bangsa melalui penjarahan migas dan kekayaan mereka, sekarangpun sistem hegemoni memburu energi-energi baru di negara-negara Islam di mana yang terpenting di antaranya ialah sumber daya manusia yang efektif, terutama para ilmuwan di negara-negara Islam.”

Menyinggung Palestina, dia mengatakan, “Semua tindakan ini merupakan untaian mata rantai di mana dengan melemahkan komponen kekuatan umat Islam maka Palestina akan tersisih dari isu utama dunia Islam.”

Presiden Raisi menyebutkan bahwa berkat darah syuhada, terjadi  kebangkitan para ulama dan cendikiawan serta muncul petunjuk-petunjuk dari para pemuka kebangkitan Islam di kawasan.

“Ketika sepak terjang ISIS bermula dengan mengibarkan bendera ‘lailaha illa Allah Muhammadar Rasulullah’, sebagian orang tak memiliki pemahaman yang benar tentang ISIS. Saat itu, Pemimpin Revolusi Islam nan bijaksana (Ayatullah Sayid Ali Khamenei) mengumumkan bahwa apa yang dilakukan ISIS adalah serupa dengan apa yang dilakukan oleh para Zionis, dan menegaskan bahwa terlepas dari soal ke mana mereka berafiliasi dan dari mana berasal, aksi mereka menumpahkan darah dan berbuat kejahatan bukanlah aksi seorang Muslim. Beberapa lama kemudian terungkap bahwa mereka mengakar pada AS dan Zionis, dan Menlu AS pun bahkan secara resmi menyatakan, ‘Kamilah yang membentuk ISIS’.”

Lebih jauh, Presiden Iran menyerukan pengembangan kerjasama umat Islam di berbagai bidang sains, kebudayaan dan media.

“Penguatan ide pendekatan (antarmazhab) harus menjadi poros perhatian semua,” serunya, sembari menekankan bahwa Republik Islam Iran menjulurkan tangan persaudaraan yang hangat kepada semua negara Islam dan “semua orang yang peduli kepada agama, rakyat dan umat Islam”.

Konferensi Persatuan Islam diselenggarakan di Iran setiap tahun dan biasa dihadiri oleh para alim ulama, cendikiawan dan tokoh umat dari berbagai negara Islam dunia dalam rangka menyambut peringatan Maulid Nabi Besar Muhammad saw.

Namun, mengingat bahwa pandemi Covid-19 belum berakhir, pada konferensi kali ini sebagian besar makalah, yaitu 360 dari 514 makalah para ulama, cendikiawan, praktisi dan aktivis dari Iran dan 52 negara dunia dibacakan secara virtual. (mm/irna/raialyoum))

Baca juga:

[Video:] Perayaan Maulid Terbesar di Dunia, Lautan Manusia Banjiri Lokasi-Lokasi Rapat Akbar di Yaman

Sayid Raisi: Perundingan Nuklir Harus Berkaitan dengan Hasilnya

DISKUSI: