Iran Kembali Dilanda Gelombang Demo Akbar Anti Perusuh, Kemlu Panggil Dubes Inggris dan Norwegia

0
504

Teheran, LiputanIslam.com Jutaan rakyat Iran, Ahad (25/9), kembali turun ke jalanan dengan suara serempak mengutuk kerusuhan dan keonaran yang terjadi di negara ini dalam beberapa hari terakhir.

Berbagai provinsi Iran dilanda unjuk rasa akbar di mana massa mengutuk para perusuh sekaligus menegaskan sumpah setia mereka kepada revolusi Islam dengan semua nilai-nilainya serta perlawanan terhadap kekuatan arogan dunia.

Rakyat Iran berkonsentrasi di jalan berbagai kota, termasuk Isfahan, Shiraz, Yazd, Qom, dan Kashan, sembari memekikkan penolakan tegas mereka terhadap aksi “para perusuh dan penebar fitnah”. Mereka juga mengutuk kejahatan yang dilakukan oleh “para perusuh bayaran”, dan mendukung upaya aparat pemerintah menegakkan keamanan dan stabilitas.

Di Iran utara, kota-kota Rasht, Sari, Gurgan serta ratusan kota dan daerah lainnya juga dilanda unjuk rasa akbar untuk menandai persatuan nasional dalam menghadapi para perusuh dan campur tangan asing. Mereka menuntut tindakan hukum para perusuh yang telah menimbulkan banyak kerusakan pada properti publik maupun pribadi.

Kota-kota Tabriz, Urmia, Qazvin, Zanjan dan lain-lain juga menjadi ajang unjuk rasa akbar pro-pemerintah. Massa meneriakkan yel-yek kutukan dan penolakan terhadap kerusuhan, dan mendesak polisi dan lembaga penegak hukum agar mengambil tindakan tegas.

Penduduk kota Yasuj, Bandar Abbas dan Ahwaz juga menggelar demonstrasi besar-besaran sembari meneriakkan slogan-slogan kutukan terhadap aksi onar, dan mendukung pemerintahan Republik Islam.

Mereka menolak penistaan para perusuh terhadap kesucian Islam dan Al-Quran al-Karim, dan menuntut tindakan tegas dan proses hukum terhadap para pelaku vandalisme dan keonaran.

Para pengunjuk rasa di berbagai kota Iran merilis deklarasi yang menyatakan dukungan penuh mereka kepada upaya pasukan keamanan menghadapi para perusuh.

Unjuk rasa akbar skala nasional juga terpada hari Jumat lalu.

Sementara itu, Kementerian Luar Negeri Iran, Ahad, telah memanggil duta besar Inggris untuk Iran, Simon Shercliff, untuk menyampaikan nota protes atas upaya saluran televisi berbahasa Persia yang berbasis di London memicu kerusuhan pasca kematian wanita muda Mahsa Amini, 22 tahun.

Duta Besar Norwegia untuk Teheran Sigvald Hauge juga dipanggil untuk diminta penjelasannya mengenai “sikap campur tangan” Ketua Storting (legislatif tertinggi) Skandinavia Masud Gharahkhani terhadap urusan dalam negeri Iran.

Unjuk rasa ricuh pecah di beberapa kota Iran atas kematian Mahsa Amini, pada 16 September lalu. Amini meninggal di rumah sakit beberapa hari setelah pingsan di sebuah kantor polisi di ibukota Teheran, di mana dia dan sekelompok orang lainnya menerima bimbingan aturan berpakaian.

Menteri Dalam Negeri Ahmad Vahidi mengatakan kematian Amini telah dijadikan kedok oleh para perusuh untuk memicu kekacauan dan mendatangkan malapetaka.

Pekan lalu, polisi Iran merilis rekaman CCTV, yang menunjukkan Amini pingsan di kantor polisi. Video ini praktis menepis klaim bahwa Amini dianiya, dan menyangkal adanya kontak fisik dengannya.

Dr Massoud Shirvani, seorang ahli bedah saraf, mengatakan kepada saluran televisi IRIB TV2 pada 20 September bahwa Amini menderita tumor otak yang diangkat pada usia 8 tahun.

“Mahsa Amini dirawat dengan obat-obatan setelah operasi di bawah pengawasan ahli endokrin,” ungkapnya.

Menteri Luar Negeri Iran Hossein Amir-Abdollahian mengutuk apa yang disebutnya upaya Amerika Serikat (AS) mencampuri urusan internal Iran dan memicu kerusuhan dan instabilitas di Iran pasca kematian Amini.

Dalam pertemuan hari Minggu dengan sejawatnya dari Irak, Fuad Hussein, Amir-Abdollahian bahwa Amerika Serikat bermaksud mengacaukan Iran, dan membuat orang-orang terbunuh oleh para antek AS sendiri agar kemudian pemerintah Iran menjadi sasaran tuduhan. (mm/alalam/presstv)

Baca juga:

Video: Jutaan Rakyat Iran Gelar Demo Akbar Anti Perusuh Pasca Kematian Mahsa Amini

Potret Dualisme AS Sikapi Kematian Gadis Iran dan Irak

DISKUSI: