[Liputan] Habib Hasan Syueb, Ulama yang Mewariskan Kebaikan

0
172

LiputanIslam.com –Di tengah suasana serba muram akibat pandemi Covid-19, kaum Muslimin Purwakarta, Jawa Barat, juga merasakan duka yang lain, karena mereka ditinggal oleh seorang ulama, tokoh, dan panutan, yaitu Habib Hasan Syueb. Jenazah almarhum yang meninggal dunia pada tanggal 3 Mei 2020 lalu itu diantar oleh banyak sekali kaum Muslimin dan juga para tokoh Purwakarta. Ketua MUI Kabupaten Purwakarta KH Jhon Diendan, Wakil Ketua NU Jawa Barat KH Abun Bunyamin, serta mantan Bupati Purwakarta sekaligus anggota DPR RI Dedi Mulyadi memberikan pidato perpisahan pada saat prosesi pemakaman jenazah.

Para tokoh yang menyampaikan pidato tak kuasa menahan kesedihan. Suara mereka bergetar menahan rasa sedih. Situasinya selalu berulang, seperti peristiwa-peristiwa wafatnya para ulama baik lainnya. Wajah almarhum di saat menghembuskan nafas yang terakhir tampak tenang. Sedangkan wajah-wajah mereka yang ditinggalkan akan terlihat sedih karena didera rasa kehilangan yang mendalam.

Kematian adalah titik akhir dari kehidupan di dunia. Tak ada lagi yang bisa dilakukan untuk memperbaiki kekurangan/kekeliruan, juga tak ada waktu lagi untuk menambah value diri atau menebarkan cahaya kebaikan bagi yang lain. Kematian menjadi peak performance seorang manusia. Dalam perspektif seperti ini, prestasi kebaikan apapun yang dibuat oleh seseorang masih belum dianggap hebat selama dia masih diberi kesempatan untuk bernafas. Masih selalu terbuka kemungkinannya, kebaikan yang telah dibuat olehnya itu akan berubah menjadi keburukan, manakala ia gagal menjaga konsistensi.

Penilaian akhir atas kebaikan dan keburukan seseorang sepenuhnya bergantung kepada posisi dirinya di saat meninggal dunia. Seseorang disebut baik jika ia baik di saat meninggal. Atas dasar itulah maka salah satu doa yang sangat populer, dan Rasulullah SAW menekankan kepada kita untuk membacanya, adalah doa agar kita mati dalam keadaan husnul khatimah (akhir yang baik). Bahkan para nabi pun berdoa agar diwafatkan bersama orang-orang yang baik (tawaffanaa ma’al abrar).

Habib Hasan bersama Presiden Jokowi

Habib Hasan Syueb yang merupakan keturunan Rasulullah SAW telah memberikan contoh kepada kita semua yang masih hidup bagaimana menjalani kehidupan yang mulia, yang bisa dilihat dari akhir hidupnya. Berbagai testimoni muncul dari sejumlah tokoh yang pernah mendapatkan percikan ilmu dari almarhum semasa hidupnya. Ulama yang mengayomi dan tak pernah lelah menebar ilmu adalah contoh bagaimana seorang anak Adam yang catatan amalannya terus menorehkan kebaikan meskipun ia sudah berada di alam barzakh, karena selama hidupnya, beliau menebarkan ilmu yang bermanfaat. Kita semua tentu sangat mengenal hadits Nabi SAW yang berbunyi, “Ketika seorang anak Adam meninggal, terputuslah semua amalannya kecuali tiga hal: Sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat, dan anak saleh yang mendoakannya.”

Tak Tergantikan

Dalam sambutannya, Ketua MUI Kabupaten Purwakarta KH Jhon Diendan mengatakan bahwa Habib Hasan Syueb yang dikenal dengan panggilam Abah Habib adalah orang yang semasa hidupnya senantiasa merangkul dan memfasilitasi semua kelompok Muslim di Purwakarta. Almarhum adalah teladan baik atau uswatun hasanah bagi para ulama dan habaib generasi penerus. KH Jhon Diendan mengatakan bahwa sulit menemukan pengganti sosok seperti Abah Habib. Tapi, insya Allah, akan selalu ada saja sosok pengganti yang akan menggantikan almarhum, dan menutupi rasa kehilangan.

Seraya mengatakan bahwa Abah adalah sosok yang tulus dalam berjuang menyebarkan syiar Islam, KH Jhon Diendan juga menyatakan bahwa wafatnya Abah di bulan suci Ramadhan merupakan pertanda sebuah kebaikan dan keberuntungan bagi almarhum.

Ulama yang Menjadi Rujukan

Di dalam Al-Quran surah An-Nahl ayat 43, Allah berfirman menyatakan bahwa kaum Muslimin hendaknya merujuk dan bertanya kepada orang yang berpengetahuan (ulama), dalam hal-hal yang tidak mereka ketahui. Itulah yang terjadi sepanjang sejarah. Para ulama selalu menjadi tempat merujuk untuk setiap masalah yang dihadapi oleh kaum Muslimin.

Dalam sambutannya, Wakil Ketua NU Jawa Barat KH Abun Bunyamin menyatakan bahwa Abah Habib adalah sosok pengayom dan orang yang didatangi kaum Muslimin Purwakarta jika mereka punya masalah apapun dalam hidupnya. KH Abun Bunyamin juga mengatakan bahwa almarhum Abah Habib yang merupakan tokoh NU Jawa Barat adalah sosok pembimbing, baik di Masjid Agung, di forum Majelis Ulama, maupun di pondok-pondok pesantren, termasuk Ponpes Al-Muhajirin Purwakarta di mana Abah Hasan tercatat sebagai pembina pondok pesantren tersebut.

KH Abun Bunyamin juga berharap bahwa anak keturunan almarhum mampu melanjutkan jejak perjuangan almarhum hingga Purwakarta kembali menemukan sosok yang soleh, baik, lembut, dan bijak seperti yang dicontohkan oleh Abah Habib. Murid-murid almarhum yang jumlahnya sampai ribuan, bahkan mungkin ratusan ribu, pastilah mendoakan Abah Habib agar diterima di sisi Allah SWT.

Meninggalkan Dunia dengan Bahagia

Sementara itu, mantan Bupati Purwakarta yang saat ini menjadi anggota DPR RI Dedi Mulyadi menyatakan bahwa selama hidupnya, Abah Habib adalah sosok yang memiliki keterbukaan dalam berpikir, cerdas dalam bertindak, dan kearifan dalam berpijak. Abah adalah seorang guru yang berhasil mendidik dan melahirkan banyak tokoh yang kemudian menjadi guru-guru yang berkualitas. Almarhum menuntun anak-anak muda memiliki pemahaman filsafat, agama, keberagaman, dan hidup saling menghormati. Menurut Dedi, kaum Muslimin Purwakarta kehilangan orang yang senantiasa menjaga kerukunan.

Dedi juga menambahkan bahwa Abah Habib boleh saja saat ini telah tiada. Akan tetapi, ruh, jiwa, dan sifat dan keteladannya akan senantiasa lestari. Jejak-jejak kebaikan dan kearifannya akan tetap hidup. Orang-orang akan selalu mengenang Abah sebagai sosok yang menyayangi orang miskin, yang tak pernah bisa menyakiti orang lain, yang selalu menjadi penengah, serta tokoh yang selalu mendamaikan orang-orang yang berselisih faham.

Di akhir pidatonya, Dedi mengatakan, “Selamat jalan Abah. Kami bersedih, tapi saya yakin Abah bahagia karena Abah kembali kepada pemilik semesta, kepada (Zat) yang mencintai Abah (dengan) cinta yang sejati; Abah (kembali) kepada yang menyayangi Abah. Sampaikan salam buat Rasulullah SAW dan keluarganya. Terima kasih Abah.” (os/liputanislam)

DISKUSI:
SHARE THIS: