Turki Mengaku Berunding dengan Suriah, Damaskus Membantah Keras

0
274

Damaskus, LiputanIslam.com –  Menteri Luar Negeri Turki Mevlut Cavusoglu mengecam keberadaan militer AS, dan menyatakan Ankara menjalin komunikasi dengan Damaskus, namun  Damaskus membantahnya.

“Di Suriah ada rezim yang tak diakui oleh dunia, karena itu tak syak lagi kami menjalin perundingan politik dengannya, tapi dalam urusan keamanan dan perang melawan teroris,” ujar Cavusoglu, Selasa (7/9).

Dia menambahkan, “Perundingan yang diperlukan sedang berlangsung di level layanan khusus dan intelijen, ini wajar.”

Dia lantas mengecam keberadaan militer AS di Suriah, yang menurutnya, berkaitan dengan ladang-ladang minyak.

“Jika AS memutuskan untuk meninggalkan Suriah maka ini adalah opsi mereka. Tapi mereka harus tahu bahwa mereka bukan diundang di Suriah, dan tak punya perbatasan bersama. Sedangkan kami di sana karena kami memiliki perbatasan bersama, dan bahaya teroris. Kami berhak ada di sana, tapi kami mendukung integritas Suriah dan bantuan kemanusiaan.”

Cavusoglu menambahkan, “AS memperlakukan masalah ini dengan cara demikian, ada minyak, dan karena itu tentara kami akan tetap bertahan di sana. Tapi cara apa ini? Tak seharusnya demikian.”

Di pihak lain, Kemlu Suriah di hari yang sama menanggapi pernyataan tersebut dengan merilis sebuah statemen yang membantah klaim Cavusoglu bahwa Ankara mengadakan perundingan dengan Damaskus.

“Suriah membantah dengan tegas adanya komunikasi atau perundingan apapun dengan rezim Turki, khsususnya di bidang pemberantasan terorisme,” bunyi statemen itu.

Kemlu Suriah balik menuding, “Rezim Ankaralah pendukung utama terorisme, dan menjadikan Turki sebagai tempat penampungan radikalisme dan terorisme yang menjadi ancaman bagi perdamaian dan stabilitas kawasan dan dunia serta bertolak belakang dengan peraturan internasional mengenai pemberantasan terorisme.” (mm/raialyoum)

Baca juga:

BBC Akui Kebohongan Laporan Serangan Kimia di Suriah

Rusia: Suriah Rontokkan 21 dari 24 Rudal Israel dalam Serangan Terbaru

DISKUSI: