London, LiputanIslam.com –  Beberapa sumber di Suriah menyebutkan bahwa sebanyak 2000 militan Suriah telah bertolak dari Turki dan akan segera tiba di Libya untuk berperang, sehingga menjadi satu perkembangan baru yang dinilai akan memperumit krisis di negara ini.

Surat kabar Inggris The Guardian, Rabu (15/1/2020), melaporkan bahwa pengerahan militan itu terjadi setelah Turki pada bulan lalu menyepakati pengiriman bantuan pasukan untuk menyokong kubu Pemerintahan Kesepakatan Nasional (Government of National Accord/GNA) yang dipimpin Perdana Menteri Fayez Mustafa al-Sarraj dan bermarkas di ibu kota, Tripoli, dalam perang saudara melawan Tentara Nasional Libya (Libyan National Army/LNA) yang dipimpin Marsekal Lapangan Khalifa Belqasim Haftar yang mendapat dukungan dari Mesir dan Uni Emirat Arab (UEA).

The Guardian menyebutkan bahwa Ankara telah menyokong kubu oposisi Suriah sejak hari-hari pertama pemberontakan terhadap Suriah Bashar Assad hingga ketika kelompok oposisi yang menaungi Pasukan Kebebasan Suriah (FSA) itu melemah dan terpecah belah akibat konflik internal dan tumbuhnya anasir (ekstremis) Islamis  dalam tubuh pemberontak.

Menurut surat kabar Inggris ini, sekarang Turki menggunakan militan pemberontak Suriah itu sebagai proksinya untuk melawan milisi Kurdi, meskipun berbagai organisasi peduli kemanusiaan menengarai terjadinya kasus-kasus pelanggaran HAM yang dilakukan oleh militan tersebut.

Baca: Video Penampakan Militan Suriah Kiriman Turki di Tripoli, Libya

Claudia Gazzini, analis senior untuk Libya dari International Crisis Group mengatakan kondisi ini jauh berbeda dengan Suriah, dan sekarang sentimen anti-Turki menguat akibat campur tangan Ankara sehingga menguntungkan kubu Haftar.

GNA semula enggan menerima kedatangan militan Suriah sebagai pengganti pasukan Turki, tapi mereka berubah pikiran setelah pasukan Haftar mendekati Tripoli.

Baca: Tentara Suriah Persiapkan Serangan Lebih masif di Aleppo

Tentang ini Gazzini mengatakan, “Mengizinkan militan Suriah yang menjadi proksinya untuk berperang berarti bahwa Ankara dapat menghindarkan pasukannya dari konfrontasi potensial di Libya.” (mm/raialyoum)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*