Tarik Ulur AS-Israel, Bantah Netanyahu, Olmert: Israel Tak Punya Opsi Militer terhadap Iran

0
174

Quds, LiputanIslam.com   Mantan Perdana Menteri Israel Ehud Olmert membantah pernyataan Benjamin Netanyahu yang juga mantan perdana menteri, dan memastikan bahwa Rezim Zionis Israel tidak memiliki opsi militer terhadap Iran.

“Israel tidak memiliki opsi militer terhadap Iran, dan siapa pun yang mengatakan bahwa Israel memiliki opsi militer dalam arti perang komprehensif dan serangan komprehensif, ini tidak ada,” tegas Olmert, sebagaimana dilansir oleh media Israel dan dikutip Rai Al-Youm , Kamis (14/7).

Dia menambahkan,“Tampaknya bagi saya bahwa mantan perdana menteri (Netanyahu) selama lebih dari setahun telah menolak untuk diberitahu tentang perkembangan terakhir. Sebaliknya, dia memberikan omong kosong. Intinya, sangat jelas bahwa Israel tidak memiliki opsi militer, dan siapa pun yang mengatakan bahwa Israel memiliki opsi militer dalam arti perang komprehensif dan serangan komprehensif, maka ini tidak ada. Ini adalah gosip yang menciptakan harapan yang tiak dapat terpenuhi.”

Sebelumnya, media Israel mengutip pernyataan pemimpin oposisi Netanyahu usai pertemuannya dengan Presiden AS Joe Biden yang mengesankan bahwa Israel seolah memiliki opsi militer terhadap Iran.

“Saya mengatakan kepada Biden bahwa kami menginginkan satu hal. Sanksi ekonomi tidak cukup, dan ada kebutuhan untuk opsi militer yang nyata, dan tanpa itu, Iran tidak dapat berhenti,” ujar Netanyahu.

Dalam konteks yang sama, media Israel menyebutkan bahwa Biden tidak membawa kabar baik, dan bahwa “kehangatan pertemuan tidak menyembunyikan perbedaan antara Israel dan AS mengenai kebijakan terhadap Iran. ”

Seorang reporter bidang politik di Channel 13 mengatakan, “Tidak ada kabar baik dari mulut presiden AS, dan saya percaya bahwa perbedaan antara Israel dan AS mengenai masalah Iran telah diungkapkan.  Deklarasi Yerusalem, yang ditandatangani hari ini, adalah pidato yang jelas oleh AS dan ditandatangani oleh Presiden Biden, tapi kita masih dalam retorika dan pernyataan.”

Dia menambahkan, ” (Perdana Menteri Yair) Lapid berbicara tentang perlunya opsi militer nyata dalam menghadapi ancaman Iran, dan di pihak lain, Biden mengatakan, ‘kami berkomitmen pada metode diplomatik’. Ketika ditanya, dia berkata,  ‘Saya percaya pada diplomasi’ sehingga dikatakan kepadanya, ‘Selamanya?!’, dia menjawab, ‘Saya percaya pada diplomasi’.”

Pengamat urusan militer di Channel 13 mengatakan, “Amerika belum beranjak barang satu milimeter dari posisinya, masih mematuhi perjanjian nuklir 2015 dan ingin kembali ke sana, dan bola ada di lapangan Iran.”

Biden telah berdiskusi dengan Lapid mengenai cara untuk “mengintegrasikan Israel” ke kawasan, dan Lapid menekankan “perlunya membentuk koalisi negara-negara moderat di kawasan untuk menghadapi Iran”.  Lapid berusa membujuk Biden ihwal penentangan Israel terhadap niat Washington kembali ke perjanjian nuklir 2015 dan kebutuhan untuk mengintensifkan tekanan terhadap Iran untuk dapat kembali ke meja perundingan guna mendiskusikan “perjanjian alternatif”.

Biden dan Lapid telah meneken apa yang disebut Deklarasi Yerussalem dan mendirikan “kemitraan strategis” antara AS dan Israel di berbagai bidang.

Biden berkunjung ke Israel dalam suatu lawatan yang telah diumumkan sebelumnya. Begitu tiba di Israel pada Rabu lalu dia menegaskan kembali komitmen negaranya pada keamanan Israel dan mengatakan bahwa hubungan antara kedua sekarang “lebih mendalam dan lebih kuat daripada sebelumnya”. (mm/raialyoum)

Baca juga:

Tiba di Israel, Biden: Tak Harus Orang Yahudi untuk Menjadi Zionis

Presiden AS Tiba di Israel, Presiden Iran: Kami Pantang Mundur

DISKUSI: