Sengketa Ladang Minyak, Hizbullah dan Israel Kembali Saling Mengancam

0
173

Athena, LiputanIslam.com  Kelompok pejuang Hizbullah Lebanon dan Rezim Zionis Israel kembali terlibat aksi saling gertak terkait dengan sengketa ladang gas Karish antara Lebanon dan Israel.

Wasekjen Hizbullah Syeikh Naim Qassem menekankan “perimbangan yang jelas” mengenai kekayaan migas Lebanon di perairannya, dan menegaskan bahwa pihaknya menghendaki hak Lebanon sepenuhnya tanpa terkurangi sedikitpun.

“Kita menghendaki minyak kita dan hak kita sepenuh tanpa terkurangi,” ungkapnya dalam pernyataan pada peringatan HUT ke-40 Hizbullah, Selasa (5/7).

Syeikh Qassem menegaskan, “Kita hari ini ada di depan tuntutan yang benar dan berkaitan dengan pengembalian kekayaan migas Lebanon di perairan khususnya.”

Dia menambahkan, “Tak ada gunanya janji-janji yang dilontarkan oleh sebagian orang dalam penundaan solusi, tak boleh membiarkan penguluran waktu yang akan membuat Israel memaksakan eksplorasi sebagai suatu realitas. Perimbangannya jelas, kita menghendaki minyak dan hak kita sepenuh tanpa dikurangi, dan Lebanon tidak lemah, melainkan bisa melindungi hak-haknya.”

Di hari yang sama, Menteri Energi Israel Karine Elharrar mengancam akan menggunakan “berbagai cara yang tersedia” untuk menanggapi setiap upaya serangan ke ladang gas Karish di Laut Mediterania.

Ancaman itu dia lontarkan saat meninjau ladang tersebut, yang menurut Libanon terletak di wilayah maritim yang disengketakan oleh Beirut dan Tel Aviv.

Pada Sabtu lalu Hizbullah mengumumkan peluncuran tiga unir drone tak bersenjata menuju ladang Karish untuk “misi pengintaian”, dan militer Israel lantas mengaku berhasil mencegat tiga drone tersebut.

Beirut dan Tel Aviv memperebutkan wilayah laut seluas 860 kilometer persegi, yang kaya minyak dan gas.

Negosiasi antara Israel dan Lebanon mengenai perbatasan laut berhenti pada Mei 2021, setelah perbedaan antara kedua belah pihak meningkat.

“Lapangan Karish adalah salah satu aset ekonomi dan strategis Negara Israel,” kata Elharrar.

Dia menambahkan, “Setiap upaya untuk merusak platform yang terletak di perairan ekonomi Israel, akan direspon dengan berbagai cara yang kami miliki.”

Dikutip saluran 7 Israel, Arutz Sheva, Elharrar mengatakan, “Dimulainya produksi gas alam yang diharapkan dari Karish pada bulan September diperlukan untuk ekonomi energi Israel dan global dan akan memungkinkan implementasi perjanjian ekspor yang ditandatangani oleh Israel bersama Uni Eropa dan Mesir.”

Dan pada pertengahan Juni lalu, Uni Eropa, Israel dan Mesir menandatangani perjanjian untuk mengangkut gas alam Israel ke Eropa melalui Mesir, setelah dicairkan di Mesir. (mm/alalam/railayoum)

Baca juga:

Israel Ketakukan Meski Mengklaim Berhasil Menembak Tiga Drone Hizbullah

Wasekjen PFLP: Perang Besar Poros Resistensi VS Israel Pasti akan Berkobar

 

DISKUSI: