Sayid Nasrallah: Di Tengah Blokade, Iran Justru Bangkit sebagai Kekuatan Besar

0
259

Teheran, LiputanIslam.com –  Sekjen Hizbullah Sayid Hassan Nasrallah menyebut Iran sebagai negara teguh yang di tengah blokade justru bangkit menjadi kekuatan besar regional yang sangat diperhitungkan. Dia juga menyebut Israel sebagai rezim yang tak pernah mematahui hukum internasional.

Dalam pidato televisi pada haul para tokoh syuhada Libanon, Selasa (16/2), dia mengatakan, “Salah satu karakter kolektif para tokoh syuhada ialah ketekunan dalam resistensi; mereka bersabar menjalani segala kondisi sulit demi mengembangkan rencana resistensi,” ungkapnya.

Sembari menyebutkan beberapa nama tokoh syuhada dia menyebut mereka sebagai sosok pembawa spirit perlawanan terhadap Zionisme.

Mengenai Israel dia mengatakan, “Tak seharipun Israel mematuhi hukum internasional. Israel telah menghancurkan kota-kota dan membunuh warga sipil dalam setiap peperangannya. Saya katakan kepada kepala staf umum militer Israel; kami tidak mencari konfrontasi maupun perang, tapi jika kalian memaksakan perang maka kami akan menjalaninya.”

Dia juga memperingatkan kepada Israel, “Jika kalian menyerang kota-kota kami maka kami akan memberi balasan setimpal. Jika kalian menyerang desa-desa kami maka kami akan membom kota-kota kalian. Dalam segala perang di masa mendatang front internal Israel akan berhadapan dengan apa yang tak pernah mereka ketahui sejak Israel berdiri.”

Sayid Nasrallah juga berbicara mengenai perkembangan situasi di Libanon sembari menepis tuduhan bahwa Hizbullah terlibat dalam pembunuhan aktivis Luqman Salim.

“Di Libanon, peristiwa apapun yang terjadi di wilayah Anda, Andalah yang disalahkan sampai terbukti sebaliknya. Ini tak terjadi kecuali pada kita,” ujarnya.

Dia lantas menyebut Israel sebagai rezim yang bukan saja tega membunuh anteknya sendiri demi kepentingannya, melainkan juga bahkan rakyatnya sendiri.

Mengenai situasi regional  dia meniai terjadi “perkembangan besar” di kawasan Timteng dan bahkan dunia setelah Donald Trump meninggalkan Gedung Putih dan diganti Joe Biden, termasuk “kecemasan Israel dan Arab Saudi terkait dengan isu nuklir Iran.”

Menanggapi kebijakan pemerintahan Biden mendukung penghentian perang Yaman, Sayid Nasrallah mengatakan, “Ini merupakan langkah positif, dan hasil keteguhan orang-orang Yaman, tentara Yaman, dan Lijan Shaabiya (Ansarullah/Houthi).”

Mengenai Perjanjian Abad Ini yang pernah dipromosikan Trump untuk perdamaian Arab-Israel, Sekjen Hizbullah menyebutnya sudah tak lagi dibicarakan orang berkat resistensi rakyat dan pemimpin Palestina serta Poros Resistensi secara umum,  dan menilai pemerintah AS sekarang lebih mementingkan pergumulannya dengan China yang menjadi ancaman besar bagi AS di bidang ekonomi.

Menyinggung isu normalisasi hubungan Arab-Israel, Sayid Nasrallah memuji sikap bangsa Mesir dan Yordania sebagai “contoh jelas penolakan terhadap normalisasi” sehingga penolakan ini menjalar ke berbagai bangsa Arab dan Islam lain seperti Aljazair, Tunisia, dan Pakistan.

“Para delusionis semisal para penguasa Sudan akan sadar bahwa normalisasi dengan Israel tak akan dapat menyelesaikan problema ekonomi mereka,” ungkapnya ketika mengecam normalisasi hubungan sejumlah negara Arab, termasuk Sudan, dengan Israel.

Sayid Hassan Nasrallah juga berbicara mengenai HUT ke-42 kemenangan revolusi Islam Iran dengan menyebut negara republik Islam ini konsisten dan teguh melawan kekuatan arogan dunia dan mengalami perkembangan pesat di semua bidang di tengah tekanan sanksi dan blokade serta menjelma sebagai kekuatan besar regional.

Menurutnya, revolusi itu telah membuat bangsa Iran berhasil mempertahankan kedaulatan dan kemerdekaannya hingga menjadi bangsa yang menempati posisi istimewa di kawasan. (mm/raialyoum/alalam)

Baca juga:

Hamas: Organisasi Yahudi Arab Ancam Keamanan Regional

Netanyahu Mengaku Berselisih Pendapat dengan Biden Soal Iran dan Palestina

 

DISKUSI: