Saudi Lancarkan Serangan Udara ke Hudaydah

0
337

Sanaa, LiputanIslam.com –   Koalisi “AS-Saudi” melancarkan serangan udara ke berbagai daerah di provinsi Hudaydah, Yaman, demikian dilaporkan oleh media Yaman, Ahad (28/3), di tengah beredarnya laporan mengenai prakarsa damai untuk meredakan perang di negara yang sudah enam tahun dilanda perang tersebut.

Sumber lokal Yaman melaporkan pada hari itu koalisi AS-Saudi menyerang Pelabuhan Hudaydah, sementara saluran Al-Masirah milik Ansarullah melaporkan bahwa koalisi itu menggempur daerah al-Luhayyah di provinsi tersebut, dan jet pengintai juga telah menembakkan dua rudal ke Bandara Hudaydah, dan dua rudal lagi ke lingkungan al-Fazah di daerah Al-Tahita. Namun tak ada laporan mengenai dampak serangan tersebut.

Gencatan senjata di Hudaydah sudah ditetapkan dalam Perjanjian Stockholm, namun Arab Saudi belum menerapkannya.

Yaman sudah enam tahun dilanda perang antara kubu gerakan Ansarullah (Houthi) yang menguasai Sanaa, ibu kota Yaman, sejak 2014 dan beberapa provinsi lain di satu pihak dan kubu presiden pelarian Abd Rabbuh Mansour Hadi di pihak lain.

Sejak Maret 2015, pasukan koalisi yang dipimpin Arab Saudi melancarkan intervensi militer ke Yaman untuk membela kubu Mansour Hadi dengan asumsi bahwa Ansarullah dapat segera dikalahkan. Putra Mahkota Suadi Mohamed bin Salman saat itu bersumbar bahwa pihaknya akan dapat menumpas Ansarullah dalam tempo beberapa hari atau paling lambat tiga minggu.

Nyatanya, Ansarullah yang didukung oleh tentara yang berada Sanaa dan beberapa provinsi lain belakangan ini terlihat semakin kuat dan gencar melesatkan rudal balistik dan drone berbuatan bom ke wilayah Saudi sebagai balasan atas blokade dan serangan udara Saudi dan sekutunya.

Belakangan ini Saudi mengajukan prakarsa damai, dan kini sedang ditindak lanjuti oleh AS, PBB dan berbagai pihak lain melalui pertemuan-pertemuan dengan Ansarullah di Muscat, ibu kota Oman. (mm/mna)

Baca juga:

Ansarullah, AS, dan PBB di Oman Bahas Usulan Damai Arab Saudi

Enggan Sebut Bin Salman “Pembunuh”, Blinken Berkelit dengan Pragmatisme AS

DISKUSI: