Saudi Eksekusi 81 Orang dalam Sehari

0
254

Riyadh, LiputanIslam.com – Arab Saudi telah mengeksekusi 81 pria dalam satu hari, termasuk tujuh warga Yaman dan satu warga Suriah dengan dakwaan antara lain “kesetiaan kepada organisasi teroris asing” dan menganut “keyakinan menyimpang”.
Peristiwa yang dilaporkan oleh kantor berita resmi Saudi, SPA, itu, Sabtu (12/3), itu tercatat sebagai eksekusi massal terbesar yang dilakukan di negara kerajaan ini dalam sejarah modernnya.

Jumlah tersebut mengerdilkan 67 korban eksekusi yang dilaporkan di kerajaan pada tahun 2021 dan 27 korban pada tahun 2020.
“Orang-orang ini … dihukum karena berbagai kejahatan termasuk membunuh pria, wanita dan anak-anak yang tidak bersalah,” ungkap SPA, mengutip pernyataan dari Kemendagri Saudi, yang menyebutkan nama-nama ISIS, Al-Qaeda dan Houthi (Ansarullah).
Para tereksekusi mati itu antara lain 37 warga negara Saudi yang dinyatakan bersalah dalam satu kasus karena mencoba membunuh petugas keamanan dan menargetkan kantor polisi dan konvoi, tambah laporan itu.

Eksekusi massal terakhir Arab Saudi terjadi pada Januari 2016, ketika kerajaan itu mengeksekusi 47 orang, termasuk seorang ulama Syiah Syeikh Nimr al-Nimr.

Pada 2019, Saudi juga memenggal 37 warga Saudi, yang sebagian besarnya adalah warga minoritas Syiah.
Eksekusi terbaru memicu gelombang kecaman keras antara lain dari berbagai kelompok oposisi Islam dan Saudi. Menurut mereka, para tereksekusi kebanyakan adalah orang-orang yang bermaksud menggunakan haknya untuk berekspresi.

Blok Oposisi Semenanjung Arab menyebut eksekusi itu “pelanggaran terkait teror”. Blok ini mencatat bahwa 41 korban eksekusi adalah anggota gerakan damai al-Hirak al-Janoubi dan berasal dari wilayah al-Ahsa dan Qatif yang mayoritas penduduknya bermazhab Syiah.

Blok ini juga menyebut Mohammed bin Salman ” pembunuh yang menikmati penumpahan darah orang yang tidak bersalah”.
Kondisi HAM Saudi berada di bawah pengawasan yang meningkat dari kelompok-kelompok peduli HAM dan bahkan sekutu Baratnya sendiri sejak terjadi kasus heboh pembunuhan jurnalis Saudi Jamal Khashoggi pada 2018.

Saudi mendapat kecaman keras karena undang-undangnya membatasi ekspresi politik dan agama, dan menerapkan hukuman mati, termasuk untuk terdakwa yang ditangkap ketika mereka masih berusia di bawah umur.
Arab Saudi membantah tuduhan pelanggaran hak asasi manusia dan mengaku melindungi keamanan nasionalnya sesuai dengan hukumnya. (mm/raialyoum/presstv)

Baca juga:

Ansarullah Umumkan Serangan Drone ke Kilang Minyak Aramco di Riyadh

Kuwait Tolak Hadiri Seminar di Bahrain karena Keberadaan Delegasi Israel

DISKUSI: