Rusia Orbitkan Satelit “Khayyam” Iran, akan Dimanfaatkan dalam Perang Ukraina?

0
230

Almaty, LiputanIslam.com   Rusia telah meluncurkan satelit pengintai Iran yang, menurut media Amerika Serikat (AS), dapat digunakan oleh Moskow untuk mendukung serangannya di Ukraina, namun spekulasi ini dibantah oleh Teheran.

Roket Soyuz Rusia, Selasa (9/8), membawa satelit Iran “Khayyam” dari Kosmodrom Baikonur di Kazakhstan pada pukul 5:52 GMT atau 11.52 WIB, menurut siaran badan antariksa Rusia Roscosmos.

Menurut Badan Antariksa Iran (ISA), satelit Khayyam ditujukan untuk pemantauan perbatasan negara, peningkatan produktivitas di bidang pertanian, dan pemantauan sumber daya air dan manajemen bahaya alam.

Dalam sebuah pernyataan yang dikeluarkan usai peluncuran satelit tersebut, kepala Badan Antariksa Rusia, Yury Borisov, menyambut baik apa yang disebutnya sebagai “langkah penting dalam kerjasama bilateral Rusia-Iran yang membuka jalan bagi proyek-proyek baru dan lebih besar.”

Menteri Komunikasi Iran Eisa Zarepour menyebut pengorbitan satelit  berbobot 600 kg itu sebagai peristiwa “bersejarah” dan “titik balik untuk awal kerjasama baru di bidang luar angkasa antara kedua negara.”

AS mencurigai program luar angkasa Iran itu lebih bertujuan militer daripada komersial, namun Iran menyebutnya bertujuan sipil dan militer serta tidak menyalahi perjanjian internasional apapun, termasuk perjanjian nuklir 2015 antara Iran dan sejumlah negara terkemuka dunia, yang lazim disebut Rencana Aksi Komprehensif Bersama (JCPOA), dan yang ditinggal oleh AS pada tahun 2018.

Hanya saja, kali ini otoritas Iran terpaksa membantah tuduhan ataupun spekulasi jenis lain, setelah surat kabar AS Washington Post melaporkan bahwa Rusia “berniat untuk menggunakan satelit itu selama beberapa bulan” dalam serangannya ke Ukraina sebelum menyerahkannya kepada Iran.

ISA Ahad lalu dalam sebuah pernyataan mengkonfirmasi bahwa satelit  Khayyam  adalah milik Iran, dan  bahwa “semua perintah yang terkait dengan kontrol dan pengoperasian satelit ini akan dikeluarkan sejak hari pertama dan segera setelah diluncurkan oleh para ahli Iran di pangkalan antariksa Kementerian Komunikasi dan Informatika.”

ISA menekankan bahwa “pengiriman perintah dan penerimaan informasi dari satelit ini akan dilakukan sesuai dengan algoritma terenkripsi, dan bahwa negara ketiga tidak memiliki akses ke informasi ini, dan dengan demikian tidak benar beberapa rumor yang tersiar bahwa gambar satelit ini digunakan untuk tujuan militer negara lain.”

Jerusalem Post melaporkan keprihatinan para pemimpin Zionis atas peluncuran satelit Iran tersebut.  Surat kabar Israel itu menyebutkan bahwa para pejabat Zionis telah menyatakan keprihatinan mereka atas peluncuran satelit buatan Iran tersebut dan atas minimnya reaksi signifikan dari AS terkait misteri proses peluncurannya.

Pada Oktober 2005, Rusia meluncurkan satelit Iran pertama, “Sina-1”, dari Kosmodrom Plesetsk di barat laut Rusia.

Peluncuran satelit Khayyam dilakukan setelah kunjungan Presiden Rusia Vladimir Putin ke Iran pada 19 Juli lalu, di mana dia menemui Presiden Ebrahim Raisi dan Pemimpin Besar Ayatullah Ali Khamenei, yang menyerukan penguatan “kerja sama jangka panjang” antara kedua negara.

Pada Juni 2021, Putin membantah laporan pers AS bahwa Rusia  berniat menyediakan sistem satelit canggih untuk Iran guna peningkatan kemampuan spionase negara republik Islam ini.

Kegiatan luar angkasa Iran sering mendapat kecaman dari negara-negara Barat karena mereka khawatir Teheran akan meningkatkan keahliannya di bidang rudal balistik dengan meluncurkan satelit ke luar angkasa.

Iran telah meluncurkan sendiri dari wilayahnya beberapa satelit, termasuk satelit militer Noor 2 milik Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) pada Maret 2022. (mm/alalam/raialyoum)

Baca juga:

Presiden Iran: Kubu Resistensi Lumpuhkan Musuh dan Buka Harapan bagi Palestina

Panglima IRGC: Lebih dari 100,000 Rudal di Lebanon Siap Buka Pintu Neraka bagi Israel

DISKUSI: