Rusia Mengaku Kecewa atas Tampilnya Lapid sebagai Perdana Menteri Israel

0
141

Duta Besar Rusia untuk Israel Anatoly Viktorov

Quds, LiputanIslam.com   Duta Besar Rusia untuk Israel Anatoly Viktorov menyatakan kekecewaan Moskow atas tampilnya Yair Lapid sebagai perdana menteri Rezim Zionis Israel.

Menurut sebuah laporan media Israel, dalam pertemuan tertutup Viktorov mengatakan bahwa Lapid menjadi perdana menteri dapat “menyebabkan masalah” dalam hubungan antara Rusia dan Israel.

Dilaporkan bahwa kekecewaan Rusia terhadap Lapid terkait dengan pernyataan tajam Lapid mengenai invasi militer Rusia di Ukraina, sementara perdana menteri Isrrael sebelumnya, Naftali Bennett, menempuh pendekatan yang lebih diplomatis.

Lapid menuduh Moskow melakukan kejahatan perang dan pasukan Rusia “membunuhi warga sipil tak berdosa.”

Saluran 7 dan 12 Israel mengutip tanggapan dari Kedutaan Besar Rusia di Israel yang menyatakan bahwa mereka telah mencatat “pernyataan dan komentar tertentu” dari pejabat Israel, namun mereka berharap Israel “akan memilih pendekatan yang tidak memihak, seimbang, dan mempertimbangkan masalah ini.”

Times of Israel Israel menyebutkan Israel  menghindari penyelarasan terlalu dekat dengan kedua belah pihak sebagai salah satu dari sedikit negara yang mempertahankan hubungan yang relatif hangat dengan Ukraina dan Rusia, yang mengontrol zona udara Suriah yang kerap mendapat serangan dari Israel.

Israel telah berulang kali mengirimkan paket bantuan ke Ukraina termasuk berupa jaket antipeluru dan helm, dan bukan bantuan militer yang sering diminta.

Operasi militer khusus Rusia di Ukraina yang dimulai pada 24 Februari masih berlanjut sampai sekarang. Moskow bertekad untuk menghilangkan militerisasi Ukraina dan Nazisme di negara ini.

Menurut Kemhan Rusia, tentara negara ini telah membom infrastruktur militer dan pasukan Ukraina yang enggan meletakkan senjata, tanpa mengusik penduduk sipil.

Pada 25 Maret lalu, tentara Rusia menyelesaikan tahap pertama misi utamanya, yang secara signifikan membatasi daya tempur Ukraina, mengingat bahwa tujuan utama operasi tersebut adalah pembebasan wilayah Donbass, seperti dinyatakan Kemhan Rusia.

Presiden Rusia Vladimir Putin memastikan operasi militer itu tidak ditujukan untuk menduduki Ukraina. (mm/raialyoum/timesofisrael)

Baca juga:

Hizbullah Tantang Kubu Pro-Barat Manfaatkan Koneksinya untuk Kepentingan Lebanon

Yaman Tak Akan Biarkan Israel Jamah Laut Merah

DISKUSI: