Rusia: Iran Negara Pertama Non-Nuklir yang Perkaya Uranium 60%

0
154

Moskow, LiputanIslam.com –  Wakil Rusia untuk organisasi-organisasi internasional di Wina, Swiss, Mikhael Ulyanov, menyatakan bahwa Iran telah bertindak” terlampau jauh” dengan memperkaya uranium dengan tingkat kemurnian 60% dan memroduksi uranium dalam bentuk logam setelah AS keluar dari perjanjian nuklir Iran dengan sejumlah negara besar dunia yang lazim disebut perjanjian Rencana Aksi Komprehensif Bersama (Joint Comprehensive Plan of Action/JCPOA).

“Sebelum segala sesuatunya, saya ingin mengingatkan bahwa Iran telah memperlihatkan kesabaran yang sangat besar setelah keluarnya AS menarik diri dari perjanjian dan menjalankan kebijakan tekanan maksimum. Iran terus menerapkan semua komitmennya pada JCPOA selama satu tahun penuh.  Mereka baru menghentikan komitmen ini setelah pemerintahan Trump menerapkan sanksi minyak. Setelah itu Teheran mulai menarik diri dari JCPOA,” papar Ulyanov kepada surat kabar Rusia Kommersant, Minggu (11/7).

“Kami selama ini menghindari kritikan tajam terhadap Iran karena kami memahami negara ini sedang mereaksi kebijakan tekanan maksimum yang tercela itu. Biasanya kami menggunakan kata ‘prihatin’ ketika mengomentari mundurnya Iran dari prinsip perjanjian nuklir, tapi sekarang muncul hal-hal yang mencemaskan,” lanjutnya.

Dia lantas mengatakan, “Iran tampaknya telah beranjak terlampau jauh, dan untuk pertama kalinya sebuah negara non-nuklir memperkaya uranium 60% dan memroduksi uranium dalam bentuk logam. Semakin cepat kita mencapai perjanjian untuk mereaktivasi JCPOA semakin cepat pula kita menghentikan kondisi ini.”

JCPOA diteken pada tahun 2015 oleh Iran dan lima negara anggota tetap Dewan Keamanan PBB (AS, Inggris, Prancis, Rusia dan China) plus Jerman tapi lantas ditinggal oleh AS di masa kepresidenan Donald Trump pada tahun 2018. Trump kemudian menerapkan sanksi-sanksi berat terhadap Iran, lalu Iranpun membalasnya dengan menyurutkan komitmennya kepada JCPOA sejak tahun 2019.

Sejak April 2021 Wina diwarnai perundingan Iran dengan negara-negara tersebut, kecuali AS, untuk menghidupkan kembali JCPOA setelah pengganti Trump, Joe Biden, berulang kali menyatakan hasratnya untuk mengembalikan AS kepada JCPOA. Meski demikian, Uni Eropa dan Washington mengkonfirmasi keterlibatan AS dalam perundingan itu namun tanpa berkomunikasi langsung dengan pihak Iran.

Iran sendiri menolak berunding langsung dengan AS sebelum Negeri Paman Sam ini mencabut sanksinya terhadap Iran, sementara AS menekankan prinsip selangkah dibalas selangkah. (mm/raialyoum)

Baca juga:

Ayatullah Khamenei Berbelasungkawa atas Wafatnya Sekjen Front Rakyat Pembebasan Palestina

Taliban Berjanji Tak Usik Wilayah Iran

DISKUSI: