Rouhani Sebut AS Lakukan Kesalahan Strategis yang Fatal

0
137

Teheran, LiputanIslam.com –  Presiden Prancis Emmanuel Macron mengontak sejawatnya di Iran, Hassan Rouhani, dan membicarakan berbagai perkembangan situasi Timteng, keamanan regional, perjanjian nuklir, dan langkah kelima Iran untuk mengurangi komitmennya kepada perjanjian nuklir JCPOA.

Seperti dilaporkan al-Alam, Rabu (7/1/2020), pada kesempatan ini, Rouhani menekankan bahwa pemerintah AS bertanggung jawab atas dampak dan konsekuensi pembunuhan komandan Pasukan Quds Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) Jenderal Soleimani.

Rouhani menyebutkan bahwa bangsa Iran berada dalam kondisi “belasungkawa yang sangat besar kejahatan AS”.

“Dengan membunuh Jenderal Soleimani, AS telah membuat kesalahan strategis yang fatal,” lanjut Rouhani.

Rouhani mengungkapkan harapannya agar semua negara yang mengaku mendambakan  perdamaian dan keamanan yang berkelanjutan di dunia dapat bersikap tegas terhadap kejahatan dan aksi teror AS tersebut.

Baca: Pasca Pembunuhan Jenderal Soleimani, NATO Mulai Hengkang dari Irak

Dia juga memastikan tujuan AS dari aksi itu tidak mungkin berhasil, dan bahkan justru kontraproduktif bagi mereka.

“Setelah terjadinya kejahatan ini, kita menyaksikan persatuan dan solidaritas bangsa Iran, sebagaimana pula  bangsa Iran dan Irak menjadi lebih dekat daripada sebelumnya,” ungkap Rouhani.

Presiden Iran menekankan bahwa Jenderal Soleimani telah mengunjungi Baghdad atas undangan pemerintah Irak dan untuk mengadakan pertemuan dengan Perdana Menteri negara ini.

Baca: Trump Batal Targetkan Situs Budaya Iran

“Tindakan AS ini adalah pelanggaran atas kedaulatan Irak, penghinaan terhadap pemerintah dan rakyat Irak, dan kejahatan besar yang tak terampunkan terhadap rakyat Iran,” tegas Rouhani.

Di pihak lain, Macron mengatakan, “Kami semua bersedih atas peristiwa yang terjadi belakangan ini, dan kami juga sangat prihatin terkait dengan perdamaian dan stabilitas kawasan.”

Dia juga menyatakan bahwa Prancis akan melanjutkan upayanya untuk mempertahankan perjanjian nuklir. (mm/alalam)

DISKUSI: