Rezaei: Iran Masih akan Membalas Darah Jenderal Soleimani

0
159

Teheran, LiputanIslam.com –  Sekretaris Dewan Kebijaksanaan Pemerintahan  Iran Mohsen Rezaei, menegaskan bahwa balasan negara ini atas darah Jenderal Qassem Soleimani yang terbunuh oleh serangan Amerika Serikat (AS) di Baghdad pada Januari 2020 sudah dimulai namun belum selesai sehingga masih akan berlanjut.

Dia juga mengatakan bahwa Iran menentang perang, dan tidak akan memulai perang, namun jika sampai mendapat serangan dari musuhnya maka balasannya tidak akan terbatas.

“Kejahatan pembunuhan rekan Syahid Qassem Soleimani yang merupakan simbol jihad, resistensi, dan pembalasan telah dimulai dari serangan ke Pangkalan Ain Al-Assad, dan masih akan berlanjut,” ungkap Rezaei dalam wawancara dengan saluran TV Al-Alam, Kamis (20/8/2020), tepat pada hari di mana Iran memamerkan dua rudal baru buatannya, yang satu di antaranya dinamai “Syahid Qassem Soleimani”.

Dia menyebut Presiden AS Donald Trump sebagai sosok petualang yang tak akan segan-segan mengobarkan perang jika dia rasa akan menguntungkan AS, namun dia mendapat kenyataan yang memalukan dirinya ketika berhadapan dengan Iran.

“Apa yang dilihat Iran selama enam bulan terakhir ini ialah upaya AS untuk mendongkrak peluang Trump memenangi pemilu mendatang,” tutur Rezaei.

Rezim Zionis Israel, lanjutnya, menyokong “langkah-langkah bunuh diri AS” karena mereka kuatir Trump kalah, sedangkan Eropa terus menyoroti hasil-hasil jajak pendapat mengenai pemilu tersebut, namun kecil kemungkinan Eropa menggantungkan nasibnya kepada petualangan Trump.

Menurut Rezaei, tak ada orang yang percaya kepada Trump karena kebohongannya sudah melimpah, dan sejak terjadi pandemi Covid-19 semua keberhasilan yang dibanggakan Trump luruh di mata publik.

Mengenai normalisasi hubungan Uni Emirat Arab (UEA) dengan Israel, tokoh berpengaruh di Iran ini menyebutnya “tindakan bodoh dan tikaman ke punggung umat Islam secara keseluruhan, dan terlebih pengkhianatan terhadap urusan Palestina”.

Dia memastikan bahwa sejak adanya perjanjian normalisasi UEA-Israel itu perlauan Iran terhadap UEA akan berubah karena Abu Dhabi telah memperumit masalah dan melakukan tindakan yang berdampak negatif terhadap hubungannya dengan Teheran.

Rezaei mengatakan bahwa dalam jangka waktu 10 tahun mendatang AS akan keluar dari kawasan Teluk Persia, dan dalam kondisi demikian Israel akan mengalami mimpi buruk ihwal siapa yang akan menggantikan posisi AS.

Dia menambahkan, “Proyek pendirian Rezim Israel dari Eufrat hingga Nil sudah buyar sepenuhnya, dan rezim ini tak menemukan rasa aman bahkan meskipun AS masih eksis di kawasan.”

Dia lantas menegaskan bahwa Poros Resistensi akan lebih keras terhadap rezim Zionis tersebut di masa-masa mendatang. (mm/alalam)

Baca juga:

Iran Pamerkan Rudal Balistik Baru Bernama “Qassem Soleimani”

Komunitas Yahudi Iran Kutuk Normalisasi Hubungan UEA- Israel

DISKUSI: