Rakyat Palestina Luapkan Kemarahan terhadap “Perjanjian Abad Ini”

0
122

Gaza, LiputanIslam.com –  Orang-orang Palestina meluapkan kemarahannya atas prakarsa Presiden AS Donald Trump yang dinamai “Deal of The Century” (Perjanjian Abad Ini) dan dimaksudkan untuk menyudahi isu Palestina dengan kondisi yang menguntungkan Rezim Pendudukan Israel dengan semua proyek pengembangan permukiman Zionisnya itu.

Dalam meluapkan kemarahan tersebut, Front Demokrasi untuk Pembebasan Palestina (Democratic Front for the Liberation of Palestine/DFLP) menggelar aksi longmarch hingga ke depan kantor PBB di bagian barat kota Gaza, Senin (27/1/2020).

Massa yang mengikuti aksi itu membakar boneka dan poster Trump serta bendera AS dan Israel. Anggota DFLP Talal Abu Tarifeh menyebut deklarasi Perjanjian Abad Ini akan memberi lampu hijau bagi Rezim Zionis untuk melanjutkan proyek permukimannya untuk mencaplok Lembah Yordania dan bagian utara Laut Mati.

Dia menyerukan pengaduan atas pemerintah AS kepada Dewan Keamanan PBB karena prakarsa penyelesaian yang diajukan AS justru merupakan pernyataan perang terhadap bangsa Palestina.

Panitia Tinggi Nasional Great March of Return dalam rapat mingguan di markas Gerakan Fatah di Gaza membahas mekanisme perlawanan terhadap Perjanjian Abad Ini. Mereka juga menyerukan penyelenggaraan unjuk rasa di seluruh Jalur Gaza, pengadaan konferensi-konferensi rakyat Palestina, dan solidaritas antara Gaza dan Tepi Barat.

Komisi Pemantau Kekuatan Nasional dan Islam Palestina menyerukan supaya hari Selasa dan Rabu (28-29/1/2020) menjadi hari kemarahaman di semua gelanggang, dan meminta orang-orang Palestina turun ke jalan dan alun-alun untuk menggelar aksi protes.

Komisi ini memandang prakarsa Trump itu sebagai bagian dari mata rantai konspirasi AS terhadap bangsa Palestina, dan menyerukan keteguhan perlawanan dan upaya untuk menggagalkannya.

Baca: Rakyat Palestina Sambut Dialog Nasional Lawan Proposal Trump

Pemerintah Palestina di Ramallah, Tepi Barat, menyerukan kepada masyarakat internasional pemboikotan terhadap prakarsa AS, dan menyatakan bahwa prakarsa AS itu alih-alih menganggap kota Quds (Yerussalem) sebagai tanah pendudukan, justru menyerahkannya kepada Israel sehingga memberangus perkara Palestina.

Para pejabat Palestina menegeskan penolakan Presiden Palestina Mahmoud Abbas terhadap beberapa upaya Presiden Trump untuk mendiskusikan apa yang disebut ”rencana perdamaian yang diharapkan” itu.

Para pejabat itu mengatakan bahwa Gedung Putih dalam beberapa bulan terakhir ini berusaha menjalin kontak tidak langsung dengan Abbas, tapi semua itu ditolak olehnya.

Baca: Pimpinan PLO Tak Sudi Terima Panggilan Telepon Trump

Sebelumnya, otoritas Palestina kembali menunjukkan penolakannya terhadap prakarsa Trump dan menganggap sepihak.

Juru bicara kepresidenan Palestina Nabil Abu Rudaineh mengingatkan bahwa pemimpin Palestina akan meminta pemerintah Israel sebagai otoritas pendudukan bertanggungjawab penuh jika prakarsa itu jadi dideklarasikan. (mm/alalam)

DISKUSI: