Puluhan Relawan Gugur, Irak Dilanda Gejolak Anti-AS

0
88

Baghdad, LiputanIslam.com –  Para tokoh dan masyarakat di Irak, termasuk ulama terkemukanya, Grand Ayatullah Sayid Ali al-Sistani, mengutuk serangan brutal AS terhadap kelompok relawan Brigade Hizbullah Irak yang menggugurkan sedikitnya 25 orang.

Kantor Ayatullah al-Sistani, Senin (30/12/2019), merilis pernyataan yang mengutuk serangan itu sembari menyebut pemerintah Irak sebagai satu-satunya pihak yang berwenang menangani masalah ini dan mendesaknya agar menempuh tindakan yang memadai supaya peristiwa demikian tidak terulang lagi.

Sayid al-Sistani menegaskan “keharusan menghormati kedaulatan Irak dan tidak adanya pelanggaran terhadapnya meski dengan dalih bereaksi terhadap aksi-aksi ilegal sebagian pihak.”

Dia menyerukan kepada pemerintah Irak untuk mencegah upaya dan tindakan yang menjadikan negara ini sebagai ajang konflik regional dan internasional serta intervensi negara lain terhadap urusan internal Irak.

Serangan AS terhadap Hizbullah Irak juga membangkitkan gelombang unjuk rasa protes anti AS di Irak, yang juga dilanda protes anti-pemerintah sejak sekian bulan lalu.

Kota-kota Najaf dan Basrah di selatan dan Kirkuk di bagian tengah Irak menjadi ajang unjuk rasa yang diwarnai aksi pembakaran bendera AS, Senin.

Laporan terbaru dari kelompok relawan besar Irak al-Hashd al-Shaabi menyebutkan bahwa korban gugur akibat “serangan brutal terhadap markas-markas Brigade 45 dan 46” mencapai 25 orang, sedangkan korban luka 51 orang.

Menurut milisi yang andil besar dalam penumpasan ISIS di Irak ini, jumlah korban gugur bertambah karena beberapa orang menderita luka parah dan kritis akibat serangan AS yang menyasar beberapa fasilitas Brigade Hizbullah dekat kota Al-Qaim di perbatasan Irak-Suriah.

Kelompok Sadr juga angkat bicara mengutuk serangan tersebut, dan bahkan menyatakan kesiapannya bekerjasama dengan para lawan politiknya yang dekat dengan Iran untuk bersama-sama mengusir serdadu AS dari Irak.

Kelompok ini menyerukan kepada mereka “kerjasama dan penyatuan barisan demi mengusir pasukan AS melalui jalur-jalur politik dan hukum secepatnya. Jika pasukan AS tidak menarik diri maka kita akan melakukan tindakan lain bersama kalian.”

Baca: Mendapat Serangan Mematikan, Hizbullah Irak Serukan Pengusiran Pasukan AS

Di Irak terdapat sekira 5000 personil tentara AS yang menempati pangkalan-pangkalan militer di berbagai penjuru Irak dengan kedok aliansi internasional anti-ISIS.

Departemen Pertahanan AS Minggu lalu menyebut serangan itu dilakukan sebagai reaksi terhadap serangan-serangan roket Brigade Hizbullah di sebuah pangkalan-pengkalan militer Irak yang menampung tentara dan diplomat Amerika.

Serangan roket terbaru di antaranya terjadi empat hari lalu yang menarget pangkalan “K-1” di Kirkuk dan menewaskan seorang kontraktor AS serta melukai seorang warga sipil AS, empat personel sektor jasa AS, dan dua pasukan keamanan Irak.

Baca: Buntut Serangan Terhadap Relawan, Pemerintah Irak Ancam Revisi Hubungan dengan AS

Menteri Pertahanan AS Mark Esper menyebut serangan terhadap pangkalan Brigade Hizbullah yang pro-Iran di Irak dan Suriah itu “berhasil”. Dia juga bersumbar bahwa serangan serupa masih akan dilakukan oleh AS “jika perlu untuk bertindak dalam membela diri dan menghalangi milisi atau Iran” dari melakukan serangan.

Para pejabat AS menuduh Iran berada di balik serangan-serangan roket tersebut, namun Iran membantahnya. (mm/raialyoum/alalam)

DISKUSI: