Presiden Raisi: Bangsa Iran Pantang Menyerah kepada Sanksi dan Intimidasi Barat

0
138

Birjan, LiputanIslam.com   Presiden Iran Sayid Ebrahim Raisi dalam pidatonya di hadapan ribuan masyarakat di kota Birjan, provinsi Khorasan Selatan, Kamis (15/12), memuji andil besar rakyat Iran dalam perlawanan terhadap neo-imperialisme Barat dan menegaskan bahwa bangsa Iran pantang menyerah kepada sanksi dan intimidasi Barat.

“Kami di negara ini sangat memerlukan dukungan rakyat seperti ini, sebab negara-negara yang kekuatannnya bertumpu pada senjata, elemen kekuatannya adalah militer. Sedangkan elemen terpenting kekuatan dan keamanan di negara kita adalah rakyat yang religius, yakni Anda sekalian dengan segala partisipasi Anda di berbagai kancah,” ujarnya,

“Ini adalah elemen terpenting kekuatan dan keamanan di negara kita. Elemen kekuatan inilah yang hendak digembosi oleh musuh.  Mereka ingin menciderai kepercayaan rakyat. Mereka ingin menciptakan keraguan di benak orang pada modal besar dan tulang punggung pemerintahan ini, atau menimbulkan kerapuhan di tengah masyarakat. Tapi rakyat telah menunjukkan bahwa dalam berbagai tipe konspirasi dan fitnah yang ada sejak awal kemenangan revolusi Islam serta fitnah dan kerusuhan yang terjadi belakangan ini, rakyat dengan segala kesadaran, kecerdasan dan ketercerahan mereka sungguh telah mengandaskan musuh,” imbuhnya, yang segera disambut dengan teriakan takbir dan yel-yel dari massa.

Presiden Raisi menegaskan, “Apa yang kami ketahui adalah kehendak rakyat untuk independensi ekonomi, politik, kebudayaan, dan semua bidang.  Spirit perjuangan untuk independensi ini terhubung dengan Anda semua sebagai rakyat. Musuh tak ingin kita independen. Mereka ingin kita selalu bergantung.  Rakyat Iran, termasuk penduduk provinsi Khorasan Selatan, muak terhadap kebergantungan.”

Menurutnya, kemajuan Iran di berbagai bidang telah membangkit amarah musuh-musuhnya.

“Musuh melihat putra dan putri kita tekun belajar, orang-orang kita giat berusaha, dan para ilmuan kita bersusah payah di berbagai bidang demi kemajuan negara ini. Musuh gusar menyaksikan kemajuan ini. Mereka tak ingin melihat negara kita independen dalam produksi, industri, pertanian, dan berbagai bidang sains dan teknologi. Spirit perjuangan demi independensi telah menyulut amarah musuh,” turutnya.

Sayid Raisi menambahkan, “Negara ini sedang menjalani kemajuan, tapi sebagian orang mencoba menimbulkan keraguan terhadapnya  Kita mengatakan bahwa kereta kemajuan sedang bergerak, tapi musuh ingin menghentikan pergerakan kereta ini.  Benarkah kereta ini sedang bergerak? Apakah kalian (musuh) lupa bahwa sebanyak 700 rumah tangga Iran pernah ketar-ketir di tengah pandemi Covid-19? Sekjen PBB di New York pada awal pembicaraannya meminta maaf kepada saya; ‘Kami mohon maaf kepada Anda dan rakyat Iran karena kami tak dapat mencabut  boikot vaksin terhadap negara Anda.’ Saya menjawab, ‘Tuan Sekjen, sekarang di Iran terdapat enam vaksin baru yang akan diproduksi di dalam negeri. Kami yang semula importir vaksin sekarang sudah menjelma menjadi eksportir vaksin. Sebanyak lebih dari 70% penduduk Iran sudah divaksin.’”

Sayid Raisi menambahkan, “Sekjen PBB pun keheranan. Saya mengatakan;  ‘Tuan Sekjen, Anda membayangkan sanksi dan intimidasi AS dan musuh Iran lainnya akan dapat menghentikan gerakan negara dan putra putri bangsa Iran? Kami sama sekali tak kan pernah berhenti bergerak di depan sanksi!’”

Selanjutnya, setelah menjelaskan berbagai kemajuan dicapai Iran belakangan ini, Presiden Raisi menyindir musuh-musuh Iran dengan mengatakan, “Memang, sanksi kalian (musuh) bisa jadi menimbulkan kesulitan-kesulitan tertentu bagi negara dan rakyat. Tapi yang penting ialah bahwa rakyat berjuang melawan sanksi ini. Pertama, membuat sanksi ini jalan di tempat. Kedua, di tengah sanksi dan intimidasi ini, rakyat hendaknya menciptakan kesempatan. “

Dia juga mengatakan, “Sekarang putra dan putri kita justru menjadikan sanksi dan intimidasi sebagai kesempatan. Kami mengupayakan pencabutan sanksi ,  tapi di saat yang sama upaya untuk mematahkan sanksi ini ada dalam agenda kami dan terus diupayakan dengan sungguh-sungguh.  Ketika suatu komoditas atau komponen tidak diberikan kepada kita, lantas apa yang harus kita lakukan? Harus berhenti bekerja? Tidak, ini bukan spirit bangsa kita. Saya sendiri sebagai santri yang mengabdi kepada rakyat tidak berspirit demikian. Spirit kita adalah spirit yang dimiliki oleh Syahid Haji Qasem (Soleimani), yaitu: kita bisa!” (mm/irib)

Baca juga:

Iran Didepak dari CSW akibat Ulah AS, Teheran Sebut Ada “Voting Palsu”

Iran Berhasil Menangkap Teroris Pembunuh Seorang Ulama Sunni

DISKUSI: