Perundingan Nuklir Iran Dimulai Lagi di Tengah Ketegangan Pasca Insiden Natanz

0
470

Teheran, LiputanIslam.com –   Perundingan Iran dengan sejumlah negara besar dunia dimulai lagi, Kamis (15/4), untuk menyelamatkan perjanjian nuklir Rencana Aksi Komprehensif Bersama (JCPOA).

Perundingan ini dibayangi ketegangan akibat keputusan Teheran memperkaya uranium dengan tingkat kemurnian 60%, menyusul apa yang disebutnya sebagai aksi sabotese Israel pada Ahad  lalu terhadap fasilitas nuklir Natanz milik Iran.

Amerika Serikat (AS) dan negara-negara Eropa penanda tangan JCPOA memperingatkan bahwa keputusan Teheran tersebut tak sejalan dengan upaya untuk menghidupkan kembali JCPOA. AS yang secara sepihak telah keluar dari perjanjian itu sejak tahun 2018 menyebut keputusan itu sebagai “provokasi”.

Presiden Iran Hassan Rouhani menegaskan kembali bahwa negaranya tidak berniat membuat bom nuklir, dan meminta negara-negara itu menghormati JCPOA.

“Jangan khawatir terhadap Iran, kami selalu menepati komitmen kami,” kata Rouhani dalam rapat kabinet yang disiarkan televisi, Kamis.

“Kalau mau, hari ini pun kami bisa memperkaya uranium dengan kemurnian 90 persen. Tapi kami tidak mengupayakan bom nuklir.  Jika pihak lain kembali kepada komitmen penuh pada perjanjian ini maka kami akan menghentikan pengayaan 60 persen dan 20 persen,” lanjutnya.

Dia menambahkan bahwa Teheran siap kembali kepada komitmennya untuk memperkaya uranium 3,67 persen sesuai ketetapan  JCPOA, yang bertujuan mencegah Iran membuat bom nuklir, dengan imbalan pencabutan sanksi.

Israel belum secara resmi mengomentari insiden sabotase di Natanz. Negara ilegal Zionis ini menolak pengaktivan kembali JCPOA yang sudah ditinggalkan oleh AS di masa kepresidenan Donald Trump pada tahun 2018 dan kini hendak dihidupkan kembali oleh pengganti Trump, Joe Biden, dan Iranpun menyetujuinya dengan syarat semua sanksi AS terhadap Iran dicabut terlebih dahulu.

Seorang pejabat senior Iran yang terlibat dalam perundingan itu mengatakan, “Ini akan menjadi pertemuan yang sangat sulit. Pendirian kami jelas. Sebagaimana dikatakan oleh pemimpin besar kami kemarin, kami tak bisa bernegosiasi untuk selamanya. ”

Dia menambahkan, “Semua sanksi yang melanggar hukum dan tidak adil ini harus dicabut. Kami tidak merundingkan hak kami.”

Pemimpin Besar Iran Ayatullah Sayid Ali Khamenei, Rabu (14/4), menegaskan bahwa AS sedang mencoba untuk memaksakan persyaratannya untuk menyelamatkan JCPOA, sedangkan negara-negara Eropa menuruti segala yang diperintahkan AS. (mm/raialyoum)

Baca juga:

Iran Perkaya Uranium 60%, Ini Tanggapan Kritis Saudi dan Eropa

Laporan Intelijen AS: Tak Ada Tanda Iran Membuat Senjata Nuklir

DISKUSI: