Iran Perkaya Uranium 60%, Ini Tanggapan Kritis Saudi dan Eropa

0
367

Riyadh, LiputanIslam.com –   Arab Saudi dan sejumlah negara terkemuka Eropa menyayangkan perkembangan isu nuklir Iran yang belakangan ini berujung pada peningkatan pengayaan uranium hingga kemurnian 60%.

Sebagaimana dilaporkan kantor berita Saudi, SPA, Kementerian Luar Negeri (Kemlu) Saudi, Rabu (14/4), menyatakan bahwa dengan tingkat pengayaan itu proyek nuklir Iran tak dapat dianggap bertujuan damai.

Kemlu Saudi menegaskan bahwa negara kerajaan ini mendesak Iran menghindari eskalasi, tidak mengusik keamanan dan stabilitas kawasan dengan ketegangan lebih lanjut, terlibat secara serius dalam negosiasi yang sedang berlangsung, sejalan dengan harapan komunitas internasional agar Iran memanfaatkan program nuklirnya untuk tujuan damai dan berada di bawah pengawasan Badan Energi Atom Internasional (IAEA) serta sesuai apa yang dapat mewujudkan keamanan dan stabilitas regional dan global dan membatas penyebaran senjata pemusnah massal.

Saudi juga menekankan pentingnya komunitas internasional mencapai kesepakatan yang determinan, lebih kuat dan lebih lama, dengan cara yang mengoptimalkan langkah-langkah pemantauan dan pengendalian untuk memastikan pencegahan Iran dari memperoleh senjata nuklir atau mengembangkan kemampuan yang diperlukan untuk ini, serta mempertimbangkan keprihatinan yang mendalam negara-negara regional terhadap langkah-langkah eskalasi yang diambil Iran “untuk mengacaukan keamanan dan stabilitas kawasan”, termasuk program nuklirnya.

Di hari yang sama, Inggris, Prancis, dan Jerman mengaku prihatin dan tak dapat menerimas langkah terbaru Iran memperkaya uranium hingga 60 persen.

Menteri luar negeri dari tiga negara Eropa itu dalam sebuah statemen bersama menyatakan, “Produksi uranium yang diperkaya merupakan langkah penting untuk produksi senjata nuklir. Iran tidak memiliki kebutuhan sipil yang dapat diverifikasi untuk pengayaan dengan persentase ini.”

Sebelumnya, Organisasi Tenaga Atom Iran menyatakan bahwa pengayaan uranium dimaksudkan untuk tujuan medis.

Meski Iran sudah mengumumkan pengayaan uranium 60%, presiden negara ini, Hassan Rouhani,  menyatakan niatnya untuk melanjutkan negosiasi untuk kembali ke perjanjian nuklir yang ditandatangani di Wina, Swiss, pada tahun 2015.

Dia mengatakan, “Bahkan jika kami ingin memperkaya uranium hingga 60%, kami masih tidak memiliki masalah sehubungan dengan negosiasi, bahkan dengan AS.” (mm/raialyoum)

Baca juga:

Iran akan Perkaya Uranium 60 Persen

Pertama Kali, Teheran Ungkap Daftar Nama Mata-Mata dan Sabotase Anti-Nuklir Iran

DISKUSI: