Perundingan Nuklir Iran akan Diadakan lagi di Wina, Teheran Bersumpah Pantang Menyerah

0
40

Teheran, LiputanIslam.com  Pejabat tinggi Iran dan Uni Eropa memenyatakan bahwa Iran dan negara-negara terkemuka dunia akan segera memulai lagi pembicaraan di Wina, Austria, yang telah sekian bulan macet mengenai perjanjian nuklir Iran dan penghapusan sanksi Amerika Serikat (AS).

Menteri Luar Negeri Iran Hossein Amir Abdollahian dalam konferensi pers bersama dengan kepala kebijakan luar negeri Uni Eropa Josep Borrell di Teheran, Sabtu (25/6), memastikan Teheran siap melanjutkan pembicaraan dengan negara-negara G4+1 (China, Rusia, Inggris dan Prancis plus Jerman) di Wina.

“Kami siap melanjutkan pembicaraan Wina dalam beberapa hari ke depan,” katanya.

Dia mendesak AS akan “kali ini” memilih “pendekatan yang realistis dan adil” dan bertindak secara bertanggung jawab.

Menteri luar negeri Iran mengaku telah mengadakan pembicaraan “rinci, tepat dan mendalam” dengan Borrell mengenai negosiasi pemulihan perjanjian nuklir tahun 2015, yang lazim disebut Rencana Aksi Komprehensif Bersama (JCPOA).

“Kami akan memecahkan kebuntuan dalam pembicaraan Wina dan mengakhiri ketegangan yang telah ada dalam beberapa hari terakhir,” tuturnya.

Di pihak lain, Borrell mengatakan pembicaraan mengenai revitalitasi JCPOA akan segera dilanjutkan dalam beberapa hari mendatang.

“Kami diharapkan untuk melanjutkan pembicaraan dalam beberapa hari mendatang dan memecahkan kebuntuan. Sudah tiga bulan dan kami perlu mempercepat pekerjaan. Saya sangat senang dengan keputusan yang telah dibuat di Teheran dan Washington,” katanya.

Sementara itu, Sekjen Dewan Tinggi Keamanan Nasional Iran Ali Shamkhani dalam pertemuan dengan Borell menegaskan Iran akan terus mengembangkan program nuklirnya “sampai Barat mengubah perilaku ilegalnya.”

Shamkhani menekankan bahwa Iran “tidak akan menerima perjanjian apa pun yang tidak memenuhi tuntutan kami mengenai jaminan AS dan Eropa yang dapat diverifikasi.”

Dia menjelaskan, “Kami telah mematuhi semua komitmen kami dan tujuan kami adalah mencabut sanksi dan memperoleh manfaat ekonomi dari perjanjian, dan setiap perjanjian yang tidak menjamin pencabutan sanksi dan tidak mencapai kepentingan ekonomi Iran tidak akan berguna. ”

Shamkhani menuduh AS “mengikuti kebijakan kontradiktif melalui ancaman sanksi dan tekanan, demi memperpanjang negosiasi nuklir.”

Dia juga menegaskan, “Langkah balasan Iran di bidang nuklir hanyalah reaksi yang legal dan logis terhadap praktik-praktik sepihak AS dan kelambatan Eropa, dan itu akan berkelanjutan selagi Barat tak mengubah praktik-praktik ilegalnya.”

Iran tidak secara langsung bernegosiasi dengan AS karena Washington telah secara sepihak menarik diri dari  JCPOA pada tahun 2018 dan memberlakukan kembali sanksi terhadap Iran.

Dalam perundingan di Wina, yang macet sejak pertengahan Maret lalu, negosiator AS berkomunikasi dengan Iran melalui perantara Eropa. (mm/fna/rt)

Baca juga:

Biden Dituntut Bertindak Berani Kembali ke JCPOA

Media Saudi Akui Iran Mampu Redam Efek Sanksi

DISKUSI: