Perundingan Militer Rusia dan Turki Gagal Capai Kata Sepakat Soal Idlib dan Aleppo

0
105

Ankara, LiputanIslam.com –  Sebuah sumber Turki mengungkap bahwa perundingan delegasi militer Turki dan Rusia di Kementerian Pertahanan Turki di Ankara pada hari Rabu (16/9/2020) gagal mencapai kata sepakat mengenai provinsi Idlib, Suriah.

“Turki belum menanggapi tuntutan pihak Rusia penarikan (pasukan Turki) dari titik-titik pemantauan di provinsi Idlib di Suriah utara. Turki mengusulkan penyerahan kota Tal Rif’at dan Manbij kepadanya, namun tidak mendapat tanggapan positif dari pihak Rusia,” ungkap sumber itu, seperti dikutip kantor berita Sputnik milik Rusia, Kamis (17/9/2020)

“Pertemuan antara delegasi militer Rusia dan Turki berakhir tanpa membuahkan hasil yang kongkret ataupun kesepamahaman antara kedua pihak tentang Idlib,” lanjutnya.

Sumber itu menjelaskan, “Turki tidak menerima usulan Rusia untuk mundur dari titik pemantauan yang terletak di wilayah yang dikuasai oleh tentara Suriah, mengurangi jumlah pasukannya di wilayah tersebut, dan menarik senjata dan peralatan militer darinya.”

Dia juga menekankan, “Turki masih mengusulkan penyerahan kota Tal Rifaat dan Manbij kepadanya, tapi pihak Rusia tidak menyetujuinya.”

Sementara itu, sumber di Damaskus menyatakan kedua belah pihak membahas sejumlah topik, termasuk gencatan senjata di Idlib dan keberadaan pasukan Turki di wilayah yang dikuasai pemerintah Suriah.

Sumber itu mengatakan Turki menolak usulan Rusia untuk penyerahan pos pemantauan mereka, yang selama ini dikepung oleh Pasukan Arab Suriah (SAA).

Menurutnya, Turki mengusulkan sebuah rencana yang akan meminta Pasukan Demokrat Suriah (SDF) mundur dari Tal Rif’at dan Manbij di bagian utara provinsi Aleppo dan menyerahkan kota-kota ini kepada Turki. Usulan ini juga ditolak oleh delegasi Rusia, karena SAA eksis di Tal Rif’at dan tidak ada ancaman keamanan di sana.

Turki berusaha mengambil alih Manbij dan Tal Rif’at sejak SDF dan Unit Perlindungan Rakyat (YPG) merebut dua kota ini.

Di Tal Rif’at, SAA dan YPG menjalin perjanjian keamanan yang memungkinkan kedua pihak untuk bersama-sama mengontrol kota ini.

Pada Oktober 2017, tentara Turki mendirikan 12 titik pemantauan di Idlib sebagai bagian dari perjanjian “de-eskalasi” yang disepakati antara Turki, Rusia, dan Iran di Kazakhstan pada September di tahun yang sama. (mm/alalam/amn)

Baca juga: 

Turki Kecam Pembatalan Hukuman Mati Para Pembunuh Jamal Khashoggi

Israel Serang Suriah dari Arah Pangkalan AS di Tanaf

DISKUSI: