Peringati Bi’tsah Nabi, Ayatullah Khamenei: Islam Mengajarkan Politik dan Perlawanan terhadap Kezaliman

0
659

Teheran, LiputanIslam.com –  Pemimpin Besar Iran Ayatullah Sayid Ali Khamenei dalam pidato menyambut peringatan hari pengutusan (bi’tsah) Nabi Muhammad saw, Kamis (11/3),  menjelaskan misi agung yang terkandung dalam bi’tsah, termasuk perlawanan terhadap kekuatan angkara murka seperti yang kini direpresentasikan oleh Amerika Serikat (AS) dan sekutunya di Timteng, dan karena itu juga menyerukan keharusan AS keluar dari Irak dan Suriah.

Mula-mula dia menjelaskan bahwa peringatan bi’tsah Nabi saw merupakan hari besar bagi para pendamba keadilan di dunia, terutama umat Islam, dan bahwa bi’tsah beliau adalah anugerah agung bagi seluruh umat manusia yang mengajak manusia kepada tujuan-tujuan luhur yang bukan hanya untuk kehidupan di akhirat melainkan juga di dunia, termasuk di ranah sosial dan politiknya.

“Bi’stah Nabawi bertujuan menciptakan tatanan politik untuk mewujudkan tujuannya. Sang Maha Pencipta adalah penguasa semua tatanan sosial, sumber hukum adalah kitab-kitab samawi yang turun kepada para nabi, dan para nabi adalah orang yang memerintah di tengah masyarakat serta menerapkan hukum-hukum ilahiah… Agama adalah suatu program yang paripurna bagi kehidupan manusia, dan tak terbatas pada (urusan) individu,” ungkapnya.

Ayatullah Khamenei menyebutkan bahwa siapapun nabi yang diutus oleh Allah untuk menerapkan hukum-Nya pasti ditentang oleh kaum mustakbir dan zalim, dan karena itu pula “musuh menentang Islam politik yang mengelola negara dan lembaga-lembaganya.”

Dia menjelaskan bahwa revolusi besar Islam di Iran adalah dalam rangka menjalankan misi yang terkandung dalam bi’tsah, dan bertolak dari prinsip perlawanan terhadap kezaliman dan penindasan serta pembelaan kaum mustadh’afin, sehingga apa yang pernah dialami Nabi saw berupa konspirasi kaum zalim dan mustakbirin juga di alami oleh revolusi Islam Iran.

“Dalam menghadapi revolusi Islam, musuh menebar dusta dan penyesatan, mengesankannya memusuhi bangsa-bangsa, padahal Republik Islam (Iran) tak memusuhi siapapun, justru bergaul dengan baik dengan siapapun yang tidak memusuhinya, namun di saat yang sama Al-Quran melarang kita bersahabat dengan musuh, menyerukan penggalangan kekuatan untuk menghadapi musuh, dengan kesabaran dan keteguhan yang disertai kekuatan yang dapat mengalahkan musuh,” terangnya.

Dia menambahkan, “Perang lunak lebih berat dan berhahaya daripada perang keras, karena dengan perang lunak musuh membidik kesabaran masyarakat, dan ketika saling bernasihat kebaikan dan kesabaran terputus maka hilanglah kehendak dan menyebarlah keputus asaan.”

Ayatullah Khamenei juga menyinggung gejolak perang di Yaman dengan menyebutkan bahwa invasi dan blokade Saudi dan sekutunya terhadap Yaman yang sudah berlangsung enam tahun terjadi dengan lampu hijau AS, namun rakyat Yaman dapat membela diri dan solid menghadapi serangan musuh, dan karena itu mereka lantas dicap sebagai teroris.

Pemimpin Besar Iran mengecam sikap PBB dalam masalah ini dengan menyoal, “Mengapa PBB tak mengecam kejahatan yang sudah enam tahun dilakukan terhadap bangsa Yaman, dan malah menyalahkan rakyat yang membela diri?”

Lebih lanjut, dia memastikan bahwa Washingtonlah yang menampilkan dan mensponsori kelompok teroris ISIS demi memuluskan eksistensi AS di Timteng, dan dengan dalih memerangi kawanan keji ini AS tak segan-segan mengadakan pangkalan-pangkalan untuk militernya di Irak dan Suriah.

Pemimpin berserban hitam sebagai tanda ulama keturunan Nabi saw ini mengungkap standar ganda eksistensi asing di Timur Tengah. Dia menyatakan bahwa eksistensi Iran di Irak dan Suriah selalu dipersoalkan dan ditentang oleh musuh-musuhnya, padahal eksistensi itu sebatas layanan konsultasi, bukan pengerahan militer, sedangkan pihak musuh jelas-jelas hadir secara militer yang bahkan ditandai dengan pengadaan pangkalan-pangkalan militer mereka.

Ayatullah Khamenei lantas menegaskan keharusan pasukan AS angkat kaki dari Irak dan Suriah.

“Amerika harus keluar dari Irak dan Suriah secepatnya, dan musuh yang pengkhianat ini tak dapat dipercaya,” tandasnya.

Dia juga mengecam apa yang dinilainya kepalsuan dan standar ganda AS dalam isu nuklir. Menurutnya, AS yang pernah melakukan genosida yang menewaskan 220,000 orang dalam satu hari tak layak berlagak sebagai pihak yang berjuang mencegah produksi senjata pemusnah massal. (mm/alalam)

Baca juga:

Pemimpin Ansarullah Bongkar-Bongkaran Sepak Terjang AS di Yaman, Mulai Isu Takfiri hingga Normalisasi dengan Israel

Begini Menlu Iran Mendebat Pernyataan Calon Wakil Menlu AS Soal Perjanjian Nuklir Iran

DISKUSI: