Pemimpin Hizbullah Bersumpah Pertahankan Ladang Migas Karish Meski akan Memicu Perang

0
366

Beirut, LiputanIslam.com   Sekjen Hizbullah Sayid Hassan Nasrallah bersumpah bahwa pihaknya akan berjuang mempertahankan ladang migas Karish di depan keserakahan Rezim Zionis Israel, meskipun hal itu akan memicu perang besar.

Berbicara kepada Direktur Utama Al Mayadeen Ghassan Ben Jeddou dalam wawancara eksklusif dengan saluran Al Mayadeen pada momen HUT ke-40 Hizbulllah, Senin (25/7), Sayyid Nasrallah mula-mula menjelaskan sejarah perjuangan Hizbullah melawan pendudukan Israel di Lebanon.

Menurutnya, dengan pecahnya Perang Juli 2006, Rezim Zionis Israel menyadari besarnya resiko konfrontasi dengan Hizbullah dan  fakta bahwa kemampuan kubu resistensi yang berbasis di Lebanon ini lebih dari sekedar konfrontasi di perbatasan.

“Sejak 2006, musuh tidak berani mengambil tindakan apa pun terhadap Lebanon,” ujarnya, sembari menyebutkan bahwa Tel Aviv hanya menggunakan operasi biasa yang tak berbekas di Lebanon.

Mengenai sengketa ladang migas Karish antara Lebanon-Israel, Sayyid Nasrallah mengatakan Lebanon sekarang memiliki peluang bersejarah, mengingat kebutuhan Eropa akan alternatif minyak dan gas Rusia.

Pernyataan ini terkait dengan pernyataannya pada dua minggu lalu bahwa Hizbullah tak akan diam berpangku tangan jika negosiasi Lebanon-Israel mengenai Karish membentur jalan buntu.

Saat itu dia mengatakan, “Ketika hal-hal mencapai jalan buntu, kami tidak akan diam berdiri di depan Karish. Tandai kata-kata ini: kami akan mencapai Karish , di luar Karish, dan di luar, di luar Karish.”

Dalam wawancara dengan Al-Mayadeen kemarin dia mengatakan, “Presiden AS Joe Biden datang ke kawasan adalah untuk migas, dan (sumber daya tambahan) yang ditawarkan Arab Saudi dan UEA tidak akan menyelesaikan masalah kebutuhan Eropa.”

Dia menjelaskan,”AS dan Eropa membutuhkan migas, dan Israel melihat peluang dalam hal itu. Biden tidak menginginkan perang di kawasan, dan ini adalah kesempatan untuk menekan (mereka) demi minyak kita.”

Menurutnya, masalahnya bukan soal Karish dan Qana, melainkan ” tentang semua ladang minyak dan gas yang dijarah oleh Israel di perairan Palestina dengan imbalan hak-hak Lebanon.”

Sayid Nasrallah menegaskan, “AS mengalihkan perhatian Lebanon dengan negosiasi, sementara Israel mengeksplorasi gas dan bersiap untuk mengekstraksinya. AS menekan Lebanon agar menyetujui garis Hoff, yaitu proposal Israel untuk perbatasan laut.”

Dia lantas memperingatkan Israel agar tidak mencoba memprovokasi Lebanon. Dia memastikan tidak ada target Israel di laut maupun darat di luar jangkauan rudal presisi Hizbullah.

“(Serangan ke) Karish atau lebih tergantung pada keputusan musuh Israel bersama dengan keputusan AS,”ujarnya.

Dia menandaskan,  “Yang diperlukan adalah komitmen terhadap perbatasan yang ditetapkan oleh negara Libanon dan mengakhiri veto pada perusahaan yang mengekstraksi minyak. Jika ekstraksi minyak dan gas dimulai pada September sebelum Lebanon mempertahankan haknya maka kami menuju konfrontasi. Kami telah menetapkan tujuan yang akan kami capai, apa pun yang terjadi, dan kami akan melakukan apa pun untuk tujuan ini.”

Dia menambahkan, “Negara Lebanon tidak mampu membuat keputusan tepat yang akan melindungi Lebanon dan kekayaannya, dan karena itu kubu resistensi harus mengambil keputusan ini.”

Menurutnya, Lebanon sekarang harus mengekstraksi minyak dan gasnya karena ini merupakan satu-satunya cara bagi Lebanon untuk bertahan hidup.

Dia lantas menegaskan,  “Hizbullah mampu menghalangi musuh dan menyerang target di mana saja di laut wilayah pendudukan Palestina… Jika situasi menuju perang, rakyat Lebanon harus percaya kepada kubu resistensi, yang akan mampu memaksakan kehendak Lebanon pada musuh.” (mm/almayadeen)

Baca juga:

Sekjen Hizbullah: Kami Latih Faksi Palestina Mana pun Tanpa Pandang Bulu

Iran Cokok Agen Israel Jelang Pelaksanaan Aksi Peledakan Besar

DISKUSI: