Pasar-Pasar di Iran Tetap Ramai Meski Ada Seruan Aksi Mogok dari Kubu Anti-Pemerintah

0
149

Teheran, LiputanIslam.com   Pasar-pasar di berbagai provinsi Iran tetap buka buka dan ramai pengunjung sebagaimana hari-hari sebelumnya di hari kedua sejak kelompok-kelompok kontra revolusi Islam menyerukan aksi mogok nasional.

Berbagai media kontra revolusi  dan anti-pemerintah Iran dalam beberapa hari terakhir menyebar seruan aksi mogok nasional mulai dari tanggal 5 sampai dengan 7 Desember. Seruan itu bahkan disertai ancaman serangan terhadap para pedagang agar menutup toko dan kedai mereka.

Keterangan berbagai sumber yang diperoleh kantor berita Tasnim dari berbagai daerah di Iran, Senin (5/12), menyebutkan bahwa memang ada sebagian pedagang yang khawatir terhadap ancaman itu sehingga tak membuka toko, namun sebagian besar pedagang tetap buka dan beraktivitas sebagaimana di hari pertama sejak seruan aksi mogok tersiar.

Berbagai laporan juga menyebutkan bahwa situasi keamanan terkendali dan kegiatan bisnis dan perdagangan pun berjalan normal serta tidak ada pertanda yang menunjukkan efektivitas seruan aksi mogok yang disertai dengan ancaman tersebut.

Sementara itu, Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) di hari yang sama memuji Lembaga Kehakiman atas tindakan tegasnya terhadap sejumlah perusuh yang berafiliasi dengan agen mata-mata Israel.

IRGC menegaskan tidak ada kata belas kasih untuk para perusuh, preman, dan teroris yang melayani musuh negara.

Pasukan elit Iran itu mengapresiasi pejabat pengadilan atas hukuman mati yang dijatuhkan kepada empat gembong komplotan perusuh yang berafiliasi dengan badan intelijen Israel.

IRGC menyebutkan bahwa hukuman tegas yang dijatuhkan kepada perusuh yang bekerja sama dengan Israel membuktikan “kepekaan dan keseriusan” Lembaga Kehakiman dalam penegakan keadilan dan keamanan warga negara.

“Keamanan, intelijen, polisi dan pasukan (relawan) Basij tidak akan ragu dalam menindak tegas mereka yang mengancam keamanan dan ketertiban sosial,termasuk perusuh, preman bersenjata, dan teroris yang bekerja atas perintah musuh , dan tidak akan menunjukkan belas kasihan kepada mereka,” ungkap IRGC dalam sebuah pernyataan.

Meski demikian, IRGC juga mengimbau semua badan negara untuk lebih menampung dan memperhatikan aspirasi yang dinyatakan oleh sebagian warga melalui aksi damai.

Seperti diketahui, beberapa kota Iran dilanda gelombang aksi protes menyusul kematian wanita Kurdi Iran Mahsa Amini, 22 tahun, pada 16 September.

Amini meninggal di rumah sakit tiga hari setelah pingsan di kantor polisi. Hasil Investigasi menyebutkan bahwa dia meninggal akibat kondisi medis, dan bukan lantaran penganiayaan seperti yang dirumorkan oleh pihak-pihak anti-pemerintah.

Akibat rumor itu, berbagai kota dan daerah Iran dilanda gelombang aksi protes yang melibat ratusan hingga ribuan orang.

Meski demikian, gelombang aksi tandingan yang pro-pemerintah dengan jumlah massa yang mencapai jutaan orang juga berulang kali mewarnai seluruh penjuru Iran, sebagaimana terlihat dalam video-video yang ditayangkan oleh TV pemerintah, namun sengaja tak ditunjukkan oleh berbagai media arus utama dunia yang didominasi Barat agar pemerintah Iran tetap terlihat seolah tak mendapat dukungan dari rakyatnya. (mm/tasnim)

Baca juga:

Iran Tak Akan Mengalah di Hadapan Intimidasi dan Ancaman

Iran Umumkan Jumlah Korban Tewas Gelombang Kerusuhan Pasca Kematian Mahsa Amini

DISKUSI: