Iran Umumkan Jumlah Korban Tewas Gelombang Kerusuhan Pasca Kematian Mahsa Amini

0
251

Teheran, LiputanIslam.com   Pemerintah Iran mengumumkan jumlah korban tewas dalam peristiwa gelombang kerusuhan yang melanda negara republik Islam ini pasca kematian wanita Kurdi Iran Mahsa Amini.

Kementerian Dalam Negeri Iran, Sabtu (3/11),  menyatakan bahwa kubu musuh telah mengobarkan perang hibrida terhadap  Iran untuk melemahkan solidaritas nasional dan menghambat kemajuan negara ini, dan akibatnya sekira 200 orang, termasuk aparat keamanan dan warga sipil, terbunuh dalam kerusuhan yang dikobarkan oleh kelompok separatis dan teroris sejak September lalu.

Dewan Keamanan Kementerian Dalam Negeri menjelaskan bahwa para perusuh melancarkan aksi vandalisme, kekerasan dan pengacauan keamanan serta membuka jalan bagi kelompok separatis dan teroris untuk menyusup ke negara ini dan melakukan serangan brutal terhadap orang-orang yang tak berdosa.

Disebutkan bahwa gelombang kerusuhan juga telah menyebabkan kerusakan pada properti negara, publik dan pribadi senilai triliunan riyal Iran.

Kementerian Dalam Negeri menyatakan bahwa setelah kematian Amini, musuh mempercepat implementasi rencananya untuk mengobarkan perang hibrida terhadap Iran serta bermaksud membangkitkan kekerasan bermotif sektarian etnis dan agama di provinsi perbatasan Iran, termasuk Sistan dan Baluchestan, Kordestan dan Azarbaijan Barat.

Menurut kementerian itu, badan intelijen musuh menyelundupkan sejumlah besar senjata ke Iran untuk melakukan serangan teror dan psikologis yang luas demi memicu ketidakpuasan di tengah rakyat Iran serta menyudutkan pemerintah Iran terkait kekacauan di dalam negeri.

Ditegaskan bahwa Iran tidak akan pernah berkompromi atau bernegosiasi tentang keamanan, dan karena itu aparat keamanan bertekad untuk tidak membiarkan kerusuhan yang didukung asing membahayakan keamanan nasional dan akan menangani secara tegas sumber gangguan apa pun dan pertemuan ilegal di tingkat mana pun.

Mahsa Amini, 22 tahun, meninggal di rumah sakit tiga hari setelah pingsan di kantor polisi. Hasil Investigasi menyebutkan bahwa dia meninggal akibat kondisi medis, dan sama sekali tidak terjadi penganiayaan terhadapnya seperti yang dirumorkan oleh pihak-pihak yang bertanggungjawab.

Akibat rumor, berbagai kota dan daerah Iran sempat dilanda gelombang aksi protes yang melibat ratusan hingga ribuan orang. Meski demikian, karena jumlah warga Iran yang tak terpedaya oleh rumor tersebut jauh lebih banyak, gelombang aksi pro-pemerintah juga melanda seluruh penjuru Iran.

Aksi tandingan yang ratusan kota dan daerah itu bahkan melibatkan jutaan orang seperti terlihat dalam video-video yang ditayangkan oleh TV pemerintah, namun sengaja tak ditunjukkan oleh berbagai media mainstream dunia agar pemerintah Iran tetap terlihat seolah tak mendapat dukungan dari rakyatnya. (mm/tasnim/alalam)

Baca juga:

Irak Gagalkan Penyelundupan Senjata Terbesar ke Iran

Gempar, Ketua Partai Salafi/Wahhabi Mesir Ajak Umat Banggakan Nuklir Iran, Bukan Piala Dunia Qatar

DISKUSI: