Para Perunding Nuklir Iran Kembali ke Negara Masing-Masing untuk Sementara Waktu

0
96

Teheran, LiputanIslam.com –   Para perunding senior Iran dan tiga negara Eropa (Inggris, Prancis dan Jerman) kembali ke negara masing-masing untuk jangka waktu dua hari sejak Jumat (14/1) guna melakukan konsultasi dan diskusi  sikap politik mereka sesuai kesepakaan yang telah mereka capai.

Meski demikian, negosiasi di tingkat pakar masih  terus dilanjutkan tanpa jeda sehingga kepulangan para perunding senior itu tak berarti berakhirnya perundingan putaran kedelapan.

Perundingan yang ditujukan Iran untuk pencabutan sanksi ilegal AS dimulai pada 27 Desember lalu, dan dilaporkan mengalami kemajuan yang lamban. Iran menuntut pencabutan sanksi  dari AS yang telah keluar dari perjanjian tahun 2015.

Teheran menegaskan bahwa jika pencabutan ini terverifikasi maka Iran akan kembali menjalankan komitmen nuklirnya sesuai perjanjian tersebut. Teheran memastikan bahwa perundingan akan segera mencapai kesepakatan final jika AS bersedia mencabut sanksi itu dan menerima mekanisme yang dipresentasikan Iran dalam masalah ini.

Ali Waiz dari International Crisis Group menyebutkan bahwa Iran dan pihak lawannya dalam perundingan di Wina “masih sangat jauh berselisih pendapat mengenai sanksi yang akan dicabut, mekanisme verifikasi dan jaminan bahwa AS tak akan keluar lagi dari perjanjian ini”.

Kepada AFP dia mengatakan bahwa untuk verifikasi pencabutan sanksi itu “ada dua bidang, ekspor minyak Iran dan kemampuan Teheran memperoleh pendapatan yang terkait dengan sektor ini serta dana yang dibekukan, hal yang sebenarnya dapat dilakukan dalam hitungan hari”.

Namun, masalah jaminan adalah faktor yang lebih sensitif karena, menurut Ali Waiz, akan membuat pemerintah AS, baik periode Presiden Joe Biden maupun  selanjutnya, tak dapat lagi “mengikat tangan para sekutunya”.

Di bidang nuklir sendiri, sejauh ini belum diputuskan ihwal mesin sentrifugal yang digunakan Iran dalam pengayaan uranium, dan masih berjalan pembicaraan mengenai “penghancuran, penangguhan pemakaian, dan sekumpulan jalan tengah”, menurut keterangan para diplomat Eropa yang dikutip AFP, dan Iran bisa jadi menentang opsi pertama.

Semua pihak tidak menetapkan batasan waktu perundingan. Meski demikian, Eropa berulang kali menyebutkan jangka waktu “beberapa minggu”.

Menlu AS Antony Blinken menyatakan bahwa jika perundingan Wina gagal maka AS akan mencari jalan dan opsi-opsi lain bersama para sekutunya di Eropa, Timteng dan lain-lain. Sekira 100 anggota Kongres pada pekan ini mengimbau pemerintahan Joe Biden supaya mundur dari perundingan “tak serius” di Wina. (mm/alalam/raialyoum)

Baca juga:

[Video:] Iran Sukses Uji Coba Mesin Wahana Peluncur Satelit Berbahan Bakar Padat

Iran Rekrut Warga Yahudi sebagai Mata-mata, Israel Terkaget-kaget

DISKUSI: