Netanyahu Kecam “Menyerahnya” Perdana Menteri Israel kepada Hizbullah

0
152

TelAviv, LiputanIslam.com   Mantan Perdana Menteri Israel periode 2009-2021, Benjamin Netanyahu, menyebut perjanjian demarkasi perbatasan Israel dengan Lebanon sebagai “memalukan” karena “menyerah” kepada tuntutan Hizbullah yang mengizinkan Iran melakukan pengeboran gas di lepas pantai Israel.

“Ini bukan perjanjian bersejarah, melainkan penyerahan bersejarah,” kata Netanyahu dalam sebuah pernyataan di akun Twitter-nya,  yang disiarkan di televisi Israel pada Rabu malam (12/10)

“Ada pembicaraan tentang kesepakatan penyerahan yang memalukan oleh (Perdana Menteri Yair) Lapid dan (Menteri Pertahanan Benny) Gantz kepada ( Sekjen Hizbullah Lebanon  Hassan) Nasrallah,” lanjutnya.

Selasa lalu, Sayid Hassan Nasrallah dalam pidato yang disiarkan televisi mengatakan, “Kami berdiri di belakang negara dalam masalah tuntutan Lebanon mengenai demarkasi perbatasan laut selatan, dan yang menjadi perhatian kami adalah ekstraksi migas dari ladang Lebanon.”

Netanyahu yang sedang menjadi kepala kubu oposisi di Israel mengatakan, “Mereka (Lapid dan Gantz) memberinya perairan teritorial, wilayah kedaulatan dan gas kita, dan pada akhirnya mereka juga menyerah pada tuntutan Hizbullah untuk mengizinkan Iran mengebor gas di lepas pantai Israel. Mereka telah membawa Iran ke perbatasan utara kita.”

Dia juga menegaskan, “Lebanon mendapat 100 persen, sementara Israel menerima nol persen. Ini bukan perjanjian bersejarah, melainkan penyerahan bersejarah.”

Netanyahu menjelaskan, “Ini tentang kesepakatan menyerahnya perdana menteri transisi yang lemah dan amatir. Hal yang paling berbahaya adalah bahwa Lapid dan Gantz menetapkan preseden yang sangat berbahaya – terorisme mengancam dan Israel mundur. Ini adalah pukulan serius bagi kekuatan pencegah kita.” Dia mengacu pada ancaman sebelumnya oleh Hizbullah bahwa kelompok pejuang yang didukung Iran ini akan bereaksi keras jika Israel mulai mengebor gas di ladang Karish tanpa mencapai kesepakatan untuk membatasi perbatasan.

Netanyahu berkoar demikian setelah Lapid dan Gantz dalam sebuah konferensi pers membela perjanjian itu sembari menyebutkan beberapa keuntungan keamanan dan ekonominya bagi Israel.

Selasa lalu, Kepresidenan Lebanon dalam sebuah pernyataan mengumumkan bahwa versi terbaru usulan AS selaku mediator mengenai perjanjian demarkasi perbatasan maritim dengan Israel “memuaskan Lebanon, memenuhi tuntutannya dan menjaga  haknya atas kekayaan alamnya.”

Di pihak lain, Perdana Menteri Israel Yair Lapid menyebut perjanjian itu sebagai  “pencapaian besar” dan “bersejarah.”

“Ini merupakan pencapaian besar bagi Negara Israel, ekonomi Israel, dan keamanannya. Perjanjian ini tidak menjaga keamanan, melainkan meningkatkan keamanan dan menghilangkan kemungkinan eskalasi dengan Hizbullah,” ujarnya.

Dia menjelaskan, “Israel tidak takut pada Hizbullah. Tentara Israel lebih kuat dari organisasi teroris mana pun. Jika kita memasuki pertempuran, kita akan memukul keras mereka, dan peran pemerintah yang bertanggung jawab adalah mencegah perang.”

Lapid menambahkan: “Kami menjelaskan kepada Lebanon bahwa Israel tidak akan menunda produksi di reservoir Karish selama satu hari dan tidak akan menjadi sasaran ancaman apa pun. Serangan terhadap Karish adalah serangan terhadap Israel.”

Dia juga menegaskan, “Kami tidak akan ragu barang sesaat untuk menggunakan kekuatan dalam melindungi  kilang.”

Israel dan Lebanon terlibat negosiasi tidak langsung selama dua tahun dengan mediasi AS mengenai demarkasi perbatasan di wilayah yang kaya migas seluas 860 kilometer persegi di Laut Mediterania. (mm/raialyoum)

Baca juga:

Sekjen Hizbullah: Kita Sedang Menyongsong Saat-Saat yang Menentukan Soal Perselisihan Perbatasan dengan Israel

Jenderal Purnawirawan Israel Sebut Hizbullah Berhasil Tundukkan Israel

DISKUSI: