Media Turki: Negara-Negara Arab Terpaksa Pulihkan Hubungan dengan Suriah

0
244

Ankara, LiputanIslam.com –  Sebagian orang percaya bahwa Perang Suriah berakhir pada hasil yang menguntungkan pemerintah Suriah dengan keluarnya kelompok-kelompok militan bersenjata dari kawasan sekitar Damaskus dan provinsi Daraa, dan kemungkinan tergulingnya pemerintah Damaskuspun pupus.

Bertolak dari catatan tersebut, kantor berita Turki Anadolu menyebutkan beberapa faktor yang menyebabkan negara-negara Arab mau tidak mau harus menjalin hubungan lagi dengan pemerintah Suriah, setelah keanggotaan Suriah di Liga Arab dibekukan sejak tahun 2011, dan meskipun banyak negara Arab di awal-awal perang Suriah memberikan dukungan politik, dana dan senjata kepada kelompok-kelompok pemberontak dan teroris di Suriah.

Suriah sejak awal tidak terkucil sepenuhnya, karena sejumlah negara Arab di kawasan Afrika utara, Oman, Irak dan Mesir menyatakan netral dan bahkan menjalin komunikasi dengan pemerintah Suriah.

Anadolu, seperti dikutip Fars, Kamis (23/9), menyebutkan bahwa intervensi militer Rusia di Suriah sejak tahun 2015 dan dukungan Iran kepada Suriah membuat pemerintah Suriah tetap dapat bertahan dan terjauh dari ketergulingan secara militer. Karena itu, banyak negara Arab segera memahami realitas ini sehingga kembali menjalin hubungan dengan Damaskus.

Menurut Anadolu, perkembangan terpenting yang membuat negara-negara Arab mengubah sikap ialah kekalahan kubu oposisi Suriah dalam  perang di Aleppo pada awal-awal tahun 2017, dan kemudian pada tahun 2018 kubu itu kalah dalam perang di kawasan sekitar Damaskus dan Provinsi Daraa, yang menyebabkan mereka angkat tangan dan menyerahkan senjata kepada tentara Suriah.

Anadolu mencatat bahwa Uni Emirat Arab dan Bahrain membuka kembali Kedubesnya di Damaskus pada akhir-akhir tahun 2018, dan Omanpun mengirim kembali Dubesnya ke sana pada Oktober 2020. Dan terdapat pula laporan-laporan bahwa Arab Saudipun juga berusaha membuka kanal komunikasi langsung dengan pemerintah Suriah sehingga bahkan Kepala Badan Intelijen Saudi Khalid Al-Humaidan berkunjung ke Damaskus dan mengadakan pertemuan dengan Presiden Bashar Al-Assad dan Kepala Biro Keamanan Nasional Suriah Ali Mamlouk.

Menurut Anadolu, AS mengetahui adanya perundingan Suriah-Saudi. Dan sebelum itu, Menteri Pariwisata Suriah Mohammad Rami  Martini menghadiri sebuah sidang di Riyadh pada bulan Maret lalu, dan ini tercatat sebagai kunjungan pertama pejabat Suriah ke Riyadh sejak tahun 2011.

Selain itu, lanjut Anadolu, Menteri Pertahanan Suriah mengadakan pertemuan dengan Kepala Staf Angkatan Bersenjata dan beberapa pejabat Yordania lain. Yordania memutuskan dukungannya kepada oposisi dan militan Suriah, dan mengizinkan pengiriman gas Mesir ke Lebanon melalui Suriah. Pemerintah Suriah juga berusaha memulihkan hubungannya secara penuh dengan Irak dan Lebanon sehingga belakangan ini delegasi resmi Lebanon berkunjung ke Suriah dan mengadakan pertemuan dengan para pejabat Damaskus. (mm/fna)

Baca juga:

PM Baru Lebanon Tegaskan Komitmen Bebaskan Wilayah yang Diduduki Israel

Soal Pengiriman Minyak Iran ke Lebanon, New York Times: Hizbullah Cundangi AS

DISKUSI: