Media Inggris Ungkap Motif Penangkapan Dua Pangeran Senior Saudi

0
200

London, LiputanIslam.com –  Penangkapan mengejutkan terhadap dua anggota senior keluarga kerajaan Saudi dilaporkan terjadi setelah pembicaraan antara keduanya mengenai penggunaan badan eksekutif, yang dipimpin oleh salah satu dari keduanya, untuk mencegah Putra Mahkota Mohammed bin Salman (MbS) naik tahta  jika Raja Salman bin Abdulaziz meninggal dunia  atau tak mampu untuk terus memerintah.

Tiga narasumber mengkonfirmasikan kepada surat kabar Inggris, The Guardian, bahwa surat perintah penangkapan Pangeran Ahmed bin Abdulaziz, saudara kandung dan bungsu Raja Salman, dan mantan putra mahkota, Pangeran Mohammed bin Nayef, pada hari Jumat 6 Maret 2020, terjadi setelah ada bocoran ke Pengadilan Kerajaan mengenai pembicaraan tersebut.

MbS-lah yang memerintahkan penangkapan kedua pangeran senior itu dengan tuduhan berusaha menyingkirkannya melalui Dewan Baiat, yang didirikan pada 2007 untuk menjamin kelancaran proses peralihan tahta setelah kematian raja atau putra mahkota.

Dewan ini memiliki peran mendasar dalam pengamanan pencalonan MbS sebagai putra mahkota pada tahun 2017, ketika dia meraih dukungan 31 suara dari total 34 suara sehingga menyisihkan Pangeran Muhammad bin Nayef dalam urutan suksesi, dan memungkinkan MbS untuk mengkonsolidasikan posisinya sebagai penguasade facto, suatu peran yang kemudian sengaja dia perkokoh sejak saat itu.

Baca: Middle East Eye: Bin Salman Ingin Jadi Raja Sebelum KTT G20

Ahmed bin Abdulaziz diduga sebagai salah satu orang yang memberikan suara menolak di Dewan Baiat dan kemudian tetap menentang MbS. Dia dan Muhammad bin Nayef berpotensi dituduh berkhianat, namun ada pula kabar-kabar adanya berbagai masukan di Riyadh pada hari Senin lalu (9/3/2020) yang  memungkinkan tuduhan berat itu akan diringankan.

Baca: Kerajaan Saudi Tangkap Tiga Pangeran Papan Atas

Dua sumber anonim tersebut mengatakan kepada The Guardian bahwa kedua pangeran itu dituduh mencoba mengangkat Ahmed sebagai ketua Dewan Baiat, posisi yang saat ini kosong. Langkah itu akan membuatnya dapat mengakses semua percakapan yang melibatkan klan dan keluarga Kerajaan serta agamawan, yang akan mengarah pada pengangkatan pemimpin baru Saudi.

Pembicaraan antara Ahmed bin Abdulaziz dan Mohammed bin Nayef tersebut dinilai tidak akan menjurus kepada dugaan adanya rencana kudeta terhadap Putra Mahkota. (mm/raialyoum)

DISKUSI: