Liga Arab Adakan KTT Pertama sejak Pandemi Covid-19

0
210

Aljir, LiputanIslam.com   Konfrensi Tingkat Tinggi (KTT) Liga Arab pertama sejak pecahnya pandemi COVID-19 dimulai di Aljazair di tengah perpecahan yang terus terjadi di antara negara-negara anggotanya.

Negara-negara Arab terpecah karena beragam persoalan, termasuk mengenai perjuangan Palestina, peran regional Iran dan Turki dan kebijakan terhadap Presiden Suriah Bashar al-Assad, sementara perseteruan sengit Aljazair dengan Maroko juga terus membara.

Aljazair banyak absen dari urusan Arab selama beberapa tahun terakhir menyusul gelombang protes tahun 2019 yang menyebabkan tergulingnya Presiden Abdelaziz Bouteflika. Karena itu, KTT di Aljazair sekarang dipandang sebagai pertanda kembalinya Aljazair ke diplomasi garis depan.

“KTT ini menunjukkan bahwa Aljazair kembali dalam urusan internasional setelah bertahun-tahun terisolasi karena penyakit Bouteflika, gerakan protes, COVID-19, dan krisis keuangan,” kata seorang mantan menteri pemerintah dan duta besar Aljazair.

Bulan lalu Aljazair mengumpulkan faksi-faksi Palestina guna mengakhiri perselisihan internal mereka, dan Presiden Abdelmadjid Tebboune dalam beberapa bulan terakhir telah menjadi tuan rumah bagi para pemimpin Prancis dan Italia.

Namun, pada awal tahun ini Aljazair gagal membujuk negara-negara Arab lain mengakhiri penangguhan Suriah dari keanggotaan yang diberlakukan pada akhir 2011.  Pada bulan September, Damaskus mengaku tidak akan menghadiri KTT demi menghindari “menyebabkan perselisihan”.

Beberapa negara Arab terkemuka, termasuk Arab Saudi dan Qatar, mendukung pemberontak Suriah yang memerangi al-Assad, sekutu dekat Iran.

Putra Mahkota Arab Saudi Mohammed bin Salman dan pemimpin Uni Emirat Arab Mohammed bin Zayed menyatakan tidak akan datang ke Aljir, seperti halnya Raja Maroko Mohammed VI.

Presiden Mesir dan Tunisia serta raja Kuwait dan Qatar termasuk di antara sekira dua pertiga pemimpin Arab yang dijadwalkan hadir, menurut Liga Arab.

Negara-negara Arab masih berselisih sejak terjadi pemberontakan Musim Semi Arab 2011, termasuk konflik yang terus berlanjut di Suriah, Yaman dan Libya yang menarik negara-negara Arab lain serta kekuatan regional seperti Turki dan Iran.

Sejak KTT Arab terakhir tiga tahun lalu, Uni Emirat Arab, Bahrain, Maroko dan Sudan juga telah bergerak untuk menormalisasi hubungan dengan Rezim Zionis Israel. Langkah ini dianggap sebagai pengkhianatan oleh Palestina.

Pejabat Palestina dan beberapa negara Arab lainnya termasuk Aljazair mengkritik apa yang disebut “Kesepakatan Abraham” karena tidak memasukkan langkah konkret menuju negara Palestina.

Aljazair sendiri berfokus pada masalahnya dengan Maroko, saingan regional utamanya, yang pada akhir 2020 bersepakat  menjalin hubungan yang lebih hangat dengan Israel sebagai bagian dari kesepakatan di mana Amerika Serikat mengakui kedaulatan Rabat atas Sahara Barat.

Aljazair mendukung gerakan kemerdekaan Front Polisario untuk wilayah yang disengketakan. Pada tahun 2020, Front Polisario mengumumkan dimulainya kembali perjuangan bersenjatanya melawan Maroko.

Hubungan antara Aljazair dan Maroko sejak itu memburuk. Aljazair menangguhkan hubungan diplomatik antara kedua negara, tidak memperbarui kesepakatan pasokan gas dan menutup wilayah udaranya untuk pesawat-pesawat Maroko. (mm/aljazeera)

Baca juga:

Arab Saudi Dikabarkan AS Bersiaga Menghadapi Serangan Iran

Saudi Jatuhkan Hukuman Mati terhadap 15 Tahanan Politik

DISKUSI: