Kremlin Bantah Putin Minta Maaf atas Pernyataan Menlunya bahwa Hitler Berdarah Yahudi

0
170

Moskow, LiputanIslam.com Istana Kremlin menepis laporan bahwa Presiden Rusia Vladimir Putin telah meminta maaf kepada Perdana Menteri Israel Naftali Bennett atas pernyataan Menteri Luar Negeri Rusia Sergei Lavrov bahwa penjahat Perang Dunia II dari Jerman, Adolf Hitler, adalah keturunan Yahudi.

Bantahanitu  disampaikan sebagai tanggapan atas apa yang dilaporkan oleh pihak Bennett  bahwa Putin melalui panggilan telepon telah meminta maaf atas pernyataan Lavrov tersebut. Kremlin menyebutikan rincian panggilan telefon itu,  yang tidak mengandung unsur permintaan maaf.

Bantahan itu dikukuhkan oleh juru bicara kepresidenan Rusia Dmitry Peskov, Kamis (5/5), dengan mengatakan, “Percakapan yang terjadi antara para pemimpin kedua negara persis seperti yang dinyatakan dalam pernyataan Kremlin.”

Sehari sebelumnya, media Israel mengutip pernyataan dari kantor perdana menteri bahwa Bennett telah “menerima” permintaan maaf Putin atas pernyataan tentang keyahudian Hitler.

Dalam pernyataan itu kantor perdana menteri Israel menyebutkan, “Perdana Menteri telah menerima permintaan maaf Putin atas pernyataan Lavrov, dan berterima kepadanya atas penjelasan sikapnya mengenai bangsa Yahudi dan Holocaust.”

Pernyataan Lavrov mengenai Hitler tersebut telah membangkitkan kemarahan berbagai pihak di Israel. Namun, menurut Kremlin, alih-alih meminta maaf, Putin dalam percakapan telefon itu hanya ikut menekankan pentingnya tanggal 9 Mei, hari di mana Rusia memperingati kemenangannya atas Nazi dan pada tahun inipun semua korban Perang Dunia II dikenang, termasuk korban Holocaust.

Moskow berulang kali menegaskan keinginannya “melucuti senjata” Ukraina dan “memberantas Nazi” dari negara ini, dan dengan dalih inilah Rusia melancarkan invasi militer ke Uraina sejak 24 Februari lalu. (mm/raialyoum)

Berita terkait:

Rusia Nyatakan Ada Dokumentasi Video Keberadaan Pasukan Bayaran Israel di Ukraina

Rusia: Hitler Orang Yahudi, Israel Dukung Neo-Nazi di Ukraina

DISKUSI: