Ketegangan Israel-Hizbullah Meningkat Drastis, Begini Laporan Para Jurnalis Israel

0
218

Quds, LiputanIslam.com   Koresponden urusan militer untuk Channel 12 Israel, Nir Dvory, melaporkan bahwa Israel mendesak AS segera menyelesaikan perjanjian antara Lebanon dan Israel sebelum bulan September, yang merupakan tanggal ekstraksi gas dan ancaman yang menyertainya dari pemimpin Hizbullah, Sayyid Hassan Nasrallah.

Jurnalis Israel itu mengatakan,“Nasrallah menaikkan level ancaman terhadap Israel, beberapa minggu sebelum platform gas Karish mulai beroperasi. Dia mengancam bahwa jika ini dilakukan maka dia akan menyerang semua platform gas Israel, karena sebagian Karish, menurut kata-katanya, berada di wilayah Lebanon.”

Dvory menambahkan, “Negosiasi mengenai perbatasan laut macet. Israel menuntut Hizbullah mematuhi perjanjian yang akan ditandatangani dengan Lebanon, dan ini belum terjadi. Karena itu, Israel mendesak AS agar menyelesaikan perjanjian hingga September.”

Dia juga menyebutkan, “Israel sedang melakukan operasi perlindungan yang sangat besar, baik di sekitar platform gas Karish maupun  di sekitar perairan ekonomi Israel secara umum, termasuk patroli angkatan laut dan penggunaan berbagai sarana, pengerahan pesawat tempur dan sistem pertahanan udara di laut dan di tempat-tempat tertentu di utara, dan persiapan untuk segala kemungkinan dan perkembangan.”

Pekan lalu, media Israel melaporkan bahwa Perdana Menteri Israel, Yair Lapid, kepada utusan AS, Amos Hochstein, mengaku “menginginkan kesepakatan dengan Lebanon di perbatasan laut, sesegera mungkin.”

Pengamat urusan Arab di Saluran 12 Israel, Schneider Amidror, mengatakan bahwa Sayyid Nasrallah tidak hanya mengancam akan menyerang Karish, melainkan juga mengarahkan ancaman terhadap semua platform gas Israel di Mediterania sehingga terjadi peningkatan ketegangan hingga beberapa level sekaligus.

Dia juga menyebutkan bahwa Sayyid Nasrallah “mengucapkan kata-kata ini, sementara di belakang layar telah berlangsung cepat negosiasi antara Israel dan Lebanon selama beberapa minggu melalui mediator AS, Amos Heckstein.”

Amidror juga mengatakan,“Tampaknya negosiasi ini, seperti yang kami pahami dari laporan di Lebanon, mendekati tahap kesefahaman dan kesepakatan.”

Komentator urusan militer untuk saluran Kan, Itai Blumenthal, mengatakan, “Lembaga keamanan dan militer mengalami kondisi siaga tinggi selama berminggu-minggu, dan ancaman Nasrallah tentu saja mendorong penekanan pada perlindungan lebih besar.”

Pada saat yang sama, media Israel memperingatkan kurangnya kesiapan angkatan darat Israel, jika terjadi eskalasi ketegangan dengan Hizbullah di utara.

Sayid Nasrallah dalam wawancara dengan saluran Al-Mayadeen Senin lalu menegaskan Hizbullah tak akan melepaskan ladang migas Karish jatuh ke tangan Israel meski tindakan Hizbullah nanti akan memicu perang.

“Jika ekstraksi minyak dan gas dimulai pada September sebelum Lebanon mempertahankan haknya maka kami menuju konfrontasi. Kami telah menetapkan tujuan yang akan kami capai, apa pun yang terjadi, dan kami akan melakukan apa pun untuk tujuan ini,” ancamnya.

Dia juga bersumbar, “Hizbullah mampu menghalangi musuh dan menyerang target di mana saja di laut wilayah pendudukan Palestina.” (mm/raialyoum/almayadeen)

Baca juga:

Pemimpin Hizbullah Bersumpah Pertahankan Ladang Migas Karish Meski akan Memicu Perang

Sekjen Hizbullah: Kami Latih Faksi Palestina Mana pun Tanpa Pandang Bulu

DISKUSI: