Kerusuhan Mereda di Iran, Media dan Badan Keamanan Israel Kecewa Berat

0
247

Quds, LiputanIslam.com   Media Israel pada hari Rabu (28/9) melaporkan bahwa mereka di Israel “mengikuti dengan cermat peristiwa di Iran,” dan bahwa “badan keamanan Israel pesimis mengenai kemungkinan protes yang sedang berlangsung berhasil membawa perubahan di sana.”

Or Heller, komentator militer Channel 13, ketika apakah badan keamanan Israel mengikuti peristiwa di Iran menjawab, “Ya, mengingat gambar yang datang dari Iran, ada keinginan dan impian yang konstan bahwa Iran runtuh dari dalam. Mimpi demikian bertahan sejak revolusi yang dipimpin oleh Khomeini pada tahun 1979.”

Dia menambahkan, “Namun, setelah malam ini kami berbicara dengan semua pejabat di badan di Israel, saya dapat mengatakan bahwa di lembaga keamanan, mereka pesimis tentang kemungkinan protes berhasil mengarah pada perubahan.”

Sebelumnya, dikutip Al-Mayadeen, media Israel menyatakan, “Pihak berwenang di Iran berhasil memadamkan gelombang protes, karena ada penurunan yang sangat jelas dalam ukuran dan kekuatan mereka. Upaya AS gagal.”

Ehud Yaari, komentator urusan Arab untuk Saluran 12 Israel , mengatakan, “Sayangnya, pihak berwenang di Iran berhasil mengatasi gelombang protes yang melanda berbagai kota Iran, termasuk serangan terhadap pusat-pusat pemerintahan dan serangan dengan bom Molotov terhadap pasukan Basij yang membubarkan unjuk rasa.”

Dia menambahkan, “AS sedang berusaha membuka Internet yang diblokir oleh otoritas Iran untuk mengganggu jejaring sosial,tapi ini tidak membantu, dan kita melihat penurunan yang sangat jelas dari segi skala dan kekuatan demonstrasi, juga dari sisi kekerasan mereka.”

Dua bulan lalu, Menteri Intelijen Iran, Ismail Khatib, menyatakan bahwa  kementeriannya dalam beberapa bulan terakhir melancarkan “operasi sukses” terhadap Israel, tanpa mengungkapkan rinciannya.

Dia juga menyatakan bahwa agen yang ditangkap adalah anggota “organisasi teroris” Partai Komala    bahwa dinas rahasia Israel Mossad telahmenugaskan kelompok ini untuk melakukan operasi di Iran.

Menurut pengumuman Kementerian Intelijen Iran, anggota jaringan ini menggunakan “peralatan operasi dan komunikasi terbaru, dan bahan peledak yang sangat kuat” dengan tujuan melakukan sabotase di beberapa titik sensitif dan target.

Presiden Iran Sayid Ebrahim Raisi, Rabu, menyatakan bahwa kematian Mahsa Amini dalam tahanan polisi, “menyedihkan” semua orang di Republik Islam, namun “pengacauan” dengan dalih protes atas peristiwa ini tidak akan dapat diterima.

“Kami semua sedih atas insiden tragis ini… (Namun) kekacauan itu tidak dapat diterima,” kata Raisi dalam sebuah wawancara dengan televisi pemerintah.

Dia juga menegaskan,”Garis merah pemerintah adalah keamanan rakyat kami…  Orang tidak boleh dibiarkan mengganggu masyarakat melalui kerusuhan.” (mm/raialyoum)

Baca juga:

[Video:] Pasukan Iran Mengamuk, 70-an Rudal dan Drone Kamikaze Dihujankan ke Kurdistan Irak

Presiden Iran: Imperium Media Barat Mendistorsi Fakta dan Mengubah Definisi Terorisme

DISKUSI: