Kapal Induk AS Masuki Teluk Persia di Tengah Ancaman Perpanjangan Embargo Senjata Iran

0
135

Washington, LiputanIslam.com –  Kapal induk Amerika Serikat (AS) telah berlayar melintasi Selat Hormuz dan memasuki perairan Teluk Persia, demikian diumumkan oleh Armada ke-5 AS, Jumat (18/9/2020).

Kedatangan kapal induk AS ke perairan strategis itu merupakan yang pertama kalinya dalam 10 bulan, dan terjadi di tengah ancaman AS untuk memperpanjang embargo senjata PBB yang telah berakhir terhadap Iran.

Armada ke-5 AS menyebutkan bahwa kelompok penyerang yang dipimpin oleh USS Nimitz, termasuk dua kapal penjelajah berpeluru kendali USS Princeton dan USS Philippine Sea serta sebuah kapal perusak berpeluru kendali USS Sterett, berlayar ke Teluk Persia untuk beroperasi dan berlatih dengan mitra AS.

“(Armada penyerang) akan beroperasi dan berlatih bersama mitra regional dan koalisi, serta memberikan dukungan penerbangan Angkatan Laut untuk Operation Inherent Resolve,” bunyi pernyataan itu.

“Kelompok Penyerang Nimitz telah beroperasi di wilayah operasi Armada ke-5 sejak Juli, dan berada di puncak kesiapan,”ungkap komandan kelompok penyerang itu, Laksamana Muda Jim Kirk dalam siaran persnya.

“Kami akan melanjutkan dukungan kami kepada pasukan gabungan sementara kami beroperasi dari Teluk (Persia) bersama mitra regional dan koalisi kami,” imbuhnya.

Menteri Luar Negeri AS Mike Pompeo Selasa lalu mengancam akan memberlakukan embargo senjata dan sanksi “PBB” terhadap Iran, meskipun hampir seluruh angggota Dewan Keamanan PBB menyatakan Washington tidak memiliki alasan untuk bertindak demikian.

Dia mengatakan bahwa AS tidak akan mengizinkan Iran membeli peralatan militer China dan Rusia.

“Kami akan bertindak dengan cara – dan kami telah bertindak – yang akan mencegah Iran dapat membeli tank China dan sistem pertahanan udara Rusia serta menjual kembali senjata ke Hizbullah,” kata Pompeo.

Rabu lalu, Pompeo berjanji bahwa AS  akan kembali ke PBB untuk mengupayakan pemberlakuan kembali sanksi terhadap Iran pada minggu depan.

“Kami akan melakukan semua hal yang perlu kami lakukan untuk memastikan sanksi itu diberlakukan,” tegasnya.

Di pihak lain, penasihat politik untuk Misi Permanen Iran ke Jenewa, Nabi Azadi, menolak tuduhan AS dan memperingatkan bahwa tindakan demikian melanggar Resolusi 2231 dan merupakan upaya untuk menghancurkan lembaga multilateral seperti PBB setelah Washington gagal mendapatkan dukungan internasional untuk memperpanjang embargo di Dewan Keamanan pada Agustus lalu.

Azadi mengatakan ancaman berulang Presiden AS Donald Trump untuk menggunakan kekuatan terhadap Iran bersifat provokatif dan melanggar Piagam PBB tentang larangan ancaman atau penggunaan kekuatan atau ancaman serius terhadap perdamaian dan keamanan internasional. (mm/presstv/raialyoum)

Baca juga:

Menlu Rusia Tunjukkan Bukti AS Tak Sudi Mengakui Kesalahannya di Timteng

Rouhani Tuding UEA dan Bahrain Berusaha Menyediakan Pangkalan untuk Israel

DISKUSI: