Iran Pastikan di Wina Tak akan Ada Pertemuan Langsung yang “Tak Perlu” dengan AS

0
239

Teheran, LiputanIslam.com –   Menlu Iran Mohammad Javad Zarif menyatakan akan ada pertemuan Iran dengan 4+1 negara mengenai perjanjian nuklir di Wina, Swiss, pada hari Selasa mendatang, sedangkan pertemuan AS-Iran tidak akan ada di sela jadwal tersebut.

“Iran dan kelompok 4+1 dalam pertemuan virtual komisi bersama mengenai perjanjian nuklir sepakat untuk memulai lagi pembicaraan di Wina Selasa mendatang,” ungkap Zarif di Twitter, Jumat (2/4).

Dia menyebutkan bahwa tujuan akhir pembicaraan itu ialah pencabutan sanksi secara penuh untuk kemudian disusul dengan beberapa tindakan Iran, dan bahwa tidak akan ada pertemuan Iran-AS karena memang “tidak perlu”.

Pertemuan virtual itu sendiri, menurut Kemlu Iran, telah diadakan pada tingkat asisten menlu dan deputi bidang politik, dan mereka bersepakat untuk melanjutkan pembicaraan di Wina guna menentukan langkah-langkah yang harus dilakukan oleh tim ahli untuk pencabutan sanksi dan di bidang nuklir.

Kemlu Iran dalam sebuah statemennya juga menyebutkan bahwa semua pihak mengakui dampak tragis keluarnya AS dari perjanjian nuklir Rencana Aksi Komprehensif Bersama (JCPOA), dan karena itu mereka sama-sama menekankan untuk tidak membuang-waktu di tahap sekarang.

Deputi Bidang Politik Kemlu Iran Abbas Araghchi dalam pertemuan itu mengatakan, “Pencabutan sanksi AS merupakan langkah pertama untuk pengaktifan kembali perjanjian nuklir, dan Iran akan menghentikan langkah-langkah penurunan komitmennya segera setelah pencabutan sanksi dan realisasinya.”

Araghchi menyatakan bahwa AS tidak akan terlibat dalam pertemuan di Wina Selasa mendatang, karena proses kembalinya negara ini kepada perjanjian nuklir sudah sepenuhnya jelas dan tak memerlukan perundingan baru.

“AS tidak akan menghadiri segala pertemuan yang dihadiri Iran, termasuk pertemuan komisi bersama perjanjian nuklir Selasa mendatang. Kami mengkonfirmasi bahwa delegasi Iran sama sekali tidak akan mengadakan perundingan dengan pihak AS pada tingkat apapun,” terang Araghchi.

Dia menambahkan bahwa sebagaimana AS telah keluar dari perjanjian nuklir lalu menerapkan sanksi ilegalnya, AS juga dapat kembali kepadanya dan menyudahi pelanggarannya.

“Pertemuan Wina akan membahas kemungkinan AS kembali kepada perjanjian nuklir, dan akan dihadiri hanya oleh pihak-pihak (yang terlibat dalam) perjanjian ini,” ujarnya.

Di pihak lain, AS menyambut baik pertemuan yang akan diselenggarakan di Wina itu. Juru bicara Gedung Putih Jen Psaki dalam konferensi pers mengatakan, “Pertemuan Iran, Rusia, China, dan Eropa mengenai perjanjian nuklir merupakan satu langkah awal yang konstruktif.”

Dia juga mengatakan bahwa tak ada rencana Washington melakukan “pembicaraan langsung dengan Iran” dalam masalah ini.

Juru bicara Kemnlu AS Ned Price juga berkomentar melalui siaran persnya dengan mengatakan bahwa pembicaraan itu “akan sulit, tapi bermanfaat dan merupakan satu langkah maju.”

Sebelumnya, Uni Eropa mengumumkan bahwa Wina pekan depan akan menjadi tuan rumah perundingan semua pihak penandatangan kesepakatan nuklir tahun 2015 tersebut.

Pihak Eropa juga menyebutkan bahwa kontak secara “terpisah” dengan AS juga akan dilakukan di Wina, namun Iran segera menyatakan penolakannya terhadap pertemuan langsung dengan Washington, dan mendesak Presiden AS Joe Biden agar mencabut sanksi terlebih dahulu.

Pada Mei 2018, AS menarik diri dari JCPOA yang disepakati oleh Iran bersama kelompok 5 + 1, yang meliputi Rusia, Inggris, China, AS, Prancis, dan Jerman, serta memberlakukan lagi sanksi ekonomi terhadap Teheran. (mm/raiayoum)

Baca juga:

AS Tarik Sebagian Pasukan dan Tiga Sistem Patriot dari Kawasan Teluk Persia

Tepis Keterkaitan dengan Iran, Sanaa Nyatakan Siap Wujudkan Perdamaian Adil

 

DISKUSI: