Iran akan Hentikan Perundingan Nuklir jika Barat Mengulur Waktu

0
414

Teheran, LiputanIslam.com – Asisten Menteri Luar Negeri Iran yang juga kepala tim Iran untuk negosiasi Wina, Abbas Araghchi, menyatakan negaranya tidak akan melanjutkan perundingan jika pihak lawan dalam perundingan membuang-buang waktu.

Dia menyebutkan bahwa pembahasan yang berlangsung sejak Selasa lalu hanya mengenai mekanisme pelaksanaan kewajiban yang tertuang dalam perjanjian nuklir, sedangkan perjanjian nuklir itu sendiri tak perlu dilakukan negosiasi lagi karena sudah selesai dirundingkan.

Araghchi mengatakan bahwa pertemuan pada Selasa itu diadakan dalam rangka rapat komite gabungan perjanjian nuklir, dan tim Iran memanfaatkan kesempatan untuk mencari solusi atas masalah yang menghambat implementasi perjanjian, termasuk mengenai kembalinya AS kepada perjanjian itu dan pencabutan semua sanksi terhadap Iran. Jika semua itu terwujud maka Teheran akan kembali menjalankan kewajibannya.

“Dapat dikatakan bahwa hal baru yang terjadi dalam pertemuan ini ialah terjadinya kemajuan di bidang ini, tapi perlu disebutkan beberapa poin dalam kerangka ini, termasuk bahwa pembahasan yang dilakukan oleh pihak Iran terbatas hanya untuk kelompok 4+1 (Inggris, Prancis, Rusia dan China plus Jerman) dan tak ada perundingan apapun dengan pihak AS, meski secara tidak langsung,” ujar Araghchi.

Dia menekankan bahwa negaranya menolak usulan AS “selangkas dibalas selangkah”, dan tetap bersikukuh pada pendiriannya bahwa semua tindakan harus dilakukan sekaligus sesuai apa yang sudah disebut Iran sebagai “kondisi final”.

Asisten Menteri Luar Negeri Iran juga menegaskan bahwa jika kelompok 4+1 gagal meyakinkan AS untuk mencabut sanksinya secara penuh maka Iran “tak akan bersikeras dan terburu soal ini, dan akan menunggu apakah Eropa, China, dan Rusia sanggup atau tidak melakukan hal itu”.

Seperti diketahui, hubungan Teheran dan Washington memburuk sejak Mei 2018 setelah presiden AS saat itu Donald Trump menarik negaranya keluar dari kesepakatan nuklir Rencana Bersama Aksi Komprehensif (JCPOA) yang diteken pada tahun 2015, dan kemudian menerapkan kembali sanksi  terhadap Iran meskipun keputusan ini mendapat kecaman internasional.

Setelah Trump digantikan oleh Joe Biden, pemerintah baru AS mengaku bermaksud kembali kepada JCPOA, namun sembari mengajukan beberapa persyaratan yang tidak diterima oleh Iran sehingga dilakukan pembicaraan antara Iran dan kelompok 4+1 untuk memecahkan masalah tersebut. (mm/alalam)

Baca juga:

Jenderal IRGC: Misi AS di Irak Gagal, Pasukannya akan Segera Terusir dari Kawasan

Komandan Pasukan Quds Iran Berkunjung ke Baghdad Jelang Dialog Irak-AS, Ada Apa?

DISKUSI: