Erdogan Tuding Mesir Terlibat Aksi “Ilegal” di Libya

0
118

Ankara, LiputanIslam.com –  Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan menuding Mesir dan Uni Emirat Arab (UEA) melakukan aksi “ilegal” menyokong kubu Tentara Nasional Libya (LNA) yang dipimpin Khalifa Haftar dan berbasis di Libya timur.

“Langkah-langkah yang diambil oleh Mesir di sini, terutama berpihak pada putschist (pasukan kudeta) Haftar, menunjukkan mereka dalam proses ilegal,” kata Erdogan, Jumat (17/7/2020).

Dia juga menyebut pendekatan Uni Emirat Arab (UEA) terhadap konflik Libya sebagai “pembajakan.”

Erdogan melontarkan tudingan dan kecaman tersebut setelah Presiden Mesir Abdel Fattah el-Sisi mengadakan pertemuan dengan para sesepuh kelompok-kelompok suku Libya yang mendesak Mesir untuk campur tangan di negara kaya minyak tersebut.

Baca: Presiden Mesir Sebut Tentaranya Sanggup Ubah Jalannya Perang di Libya

Ditanya tentang kemungkinan intervensi Mesir, Erdogan memastikan Turki bertekad mempertahankan dukungannya untuk GNA.

Seperti diketahui, Libya dilanda perang saudara antara kubu pemerintah Kesepakatan Nasional (GNA) yang disokong Turki di satu pihak dan kubu Tentara Nasional Libya (LNA) yang didukung Mesir dan Uni Emirat Arab (UEA).

Dalam beberapa minggu terakhir terjadi perkembangan dan gerakan militer yang dramatis pada kubu GNA yang berbasis di Tripoli. Dengan bantuan Turki, GNA berhasil menghalau dan memukul mundur LNA dari Tripoli.

Parlemen yang berbasis di timur pekan ini meminta Mesir campur tangan dalam konflik di Libya, sementara el-Sisi dalam pertemuan dengan para pemuka suku Libya mengatakan Kairo tidak akan tinggal diam di depan ancaman langsung terhadap keamanan Mesir dan Libya.

Baca: Pakar: Pasukan Mesir Mulai Persiapkan Operasi Militer Besar di Libya

El-Sisi bulan lalu menyatakan tentara Mesir mungkin akan memasuki Libya jika pemerintah Tripoli dan Turki memperbarui serangan ke garis depan  Sirte-Jufrah, yang dipandang sebagai pintu gerbang terminal ekspor minyak utama Libya dan kini dikuasai kubu Haftar.

Libya terjerumus dalam konflik sejak sejak penguasa lama Muammar Gaddafi tewas dalam pemberontakan yang didukung NATO pada tahun 2011. (mm/aljazeera/amn)

DISKUSI: