Ditemui Para Ulama Peserta Konferensi Internasional Persatuan Islam, Ayatullah Khamenei Pastikan Keruntuhan Tatanan Dunia Unipolar

0
239

Teheran, LiputanIslam.com    Pemimpin Besar Iran Ayatullah Sayid Ali Khamenei menegaskan bahwa tatanan dunia unipolar di mana satu atau dua negara memaksakan kehendaknya pada negara lain sudah tidak lagi diterima oleh khalayak internasional.

“Peta politik dunia sedang berubah,” tegasnya dalam kata sambutannya saat ditemui oleh para pejabat Iran dan para tamu peserta Konferensi Internasional Persatuan Islam ke-36 di Teheran, ibu kota Iran,  Jumat (15/10).

Dia menjelaskan bahwa tatanan unipolar di mana “satu atau dua negara yang memaksa negara dan bangsa lain telah kehilangan legitimasinya. Bangsa-bangsa (dunia) telah terjaga. Tatanan dunia unipolar tidak lagi diterima dan secara bertahap kehilangan legitimasinya.”

Dalam sistem unipolar, menurutnya, kekuatan arogan seperti AS, merancang skema mereka sendiri dan mendiktekannya ke negara lain seperti Irak, Suriah, Iran, atau Lebanon,  namun khalayak dunia sadar akan kebenaran multipolar dan menentang satu atau dua negara yang menindas dan memaksa patuh negara lain.

Ayatullah Khamenei juga menyebutkan bahwa persatuan Islam berarti bersatu menjaga kepentingan umat Islam di seluruh dunia.

“Bersatu berarti bersatu dalam menjaga kepentingan umat Islam,” ujarnya.

Dia menambahkan bahwa persatuan ini tak berarti kesatuan geografis, karena beberapa negara Arab pernah mencoba untuk bersatu demikian pada 1960-an dan 1970-an, tapi “ini tidak mungkin.”

Ayatullah Khamenei menjelaskan, “Kepentingan umat Islam harus diidentifikasi terlebih dahulu sebelum kemudian mereka mencapai kesepakatan soal ini dan melihat apa yang dibutuhkan umat; (mereka harus melihat) kepada siapa mereka harus menjadi musuh, dengan siapa bersahabat, dan bagaimana harus menjalin persahabatan.”

Dia menekankan bahwa persatuan berarti menerapkan “tindakan bersama melawan plot kubu arogan.”

Ayatullah Khamenei menjelaskan bahwa umat Islam dapat meraih “kedudukan yang tinggi” serta menjadi “teladan” dan “pelopor” di tengah tatanan dunia baru yang sedang terbentuk,  asalkan mereka bersatu dan melawan tipudaya musuh, terutama AS dan Israel.

Dia menyebutkan bahwa dalam masalah ini harapan tertuju terutama kepada para elit pemikir Dunia Islam karena merekalah yang dapat mengarahkan opini publik.

Dia juga menekankan bahwa perbedaan pendapat Sunni dan Syiah tak perlu menjurus pada pertikaian, dan memastikan adanya “Syiah Inggris dan Sunni AS” yang getol menghadang persatuan Sunni-Syiah dengan cara memanaskan perdebatan Sunni-Syiah hingga ke tahap yang “benar-benar berbahaya” dan harus dilawan.

Mengenai Israel, dia menyinggung adanya upaya berkelanjutan untuk normalisasi hubungan negara-negara Islam dengan Israel, yang tujuannya ialah menghapus status Israel sebagai musuh Dunia Islam dan menebar perpecahan pada umat Islam.

“Normalisasi adalah salah satu pengkhianatan terbesar yang dilakukan terhadap Islam dan Muslimin,” tegasnya.

Seperti diketahui Uni Emirat Arab dan Bahrain telah meneken perjanjian yang ditengahi Amerika Serikat dengan Israel untuk menormalisasi  hubungan mereka dengan Israel pada September 2020. Dua negara Arab lainnya, yaitu Sudan dan Maroko, lantas ikut menormalisasi hubungan.

Kesepakatan normalisasi itu tak pelak memicu kecaman luas dari Dunia Islam, terutama Palestina sendiri sebagai pihak yang ditindas oleh Zionis Israel.

Konferensi Internasional Persatuan Islam ke-36 secara resmi dibuka pada hari Rabu lalu di Aula KTT Teheran dengan partisipasi delegasi dari lebih dari 40 negara.

Konferensi tahunan ini diselenggarakan oleh Forum Sedunia untuk Pendekatan Antazmazhab Islam yang berbasis di Iran. Acara tahunan ini diselenggarakan untuk menandai Pekan Persatuan Islam yang diperingati bersamaan dengan peringatan Maulid Nabi Muhammad saw.

Konferensi tahun ini mengangkat tema “Persatuan Islam, perdamaian dan penghindaran perpecahan dan konflik di dunia Islam”, sementara para peserta konferensi mendiskusikan tema-tema antara lain;  perang dan perdamaian yang adil; persaudaraan Islam; pemberantasan terorisme; penerimaan konsensus keagamaan; penggalangan empati,  simpati, aksi bersama di antara mazhab-mazhab Islam; dan penolakan terhadap normalisasi hubungan dengan Rezim Zionis Israel.

Konferensi ini dijadwalkan berakhir  pada Jumat sore setelah mengeluarkan deklarasi. (mm/mna/presstv)

Baca juga:

Ayatullah Khamenei Sebut Demo Rusuh sebagai Reaksi “Pasif” dan “Sekenanya” dari Musuh

Iran Tantang AS Buktikan Kesungguhannya ‘Perangi Terorisme’

 

DISKUSI: