Dampak Covid-19, Israel Kuatir Terjadi Intifada Tersulut lagi di Tepi Barat

0
124

Quds, LiputanIslam.com –  Media Israel, Jumat (15/5/2020), melaporkan bahwa kekhawatiran menerpa badan keamanan Israel akibat krisis ekonomi di Tepi Barat yang menjadi dampak pandemi Covid-19.

Meskipun Tepi Barat tidak terlalu terdampak oleh virus tersebut namun para pejabat keamanan memperingatkan pemerintah Israel mengenai konsekuensi krisis ekonomi yang dapat menyulut kebangkitan rakyat atau intifada yang akan merusak stabilitas pemerintahan Ketua Otoritas Palestina, Mahmoud Abbas, menyusul pernyataan-pernyataan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu tentang aneksasi Israel atas banyak lokasi di Tepi Barat.

Surat kabar Israel Haaretz menyebutkan bahwa perwakilan badan keamanan Israel dalam sebuah rapat telah memaparkan data-data yang mengacu pada Biro Pusat Statistik Palestina dan informasi intelijen.

Baca: AS Minta Israel Berhati-Hati Atas Rencana Aneksasi Tepi Barat

Para perwira intelijen Israel yang diminta untuk memperkirakan resiko aneksasi tersebut menyatakan bahwa faktor ekonomi telah mendorong warga Palestina melakukan aksi protes dalam dua tahun terakhir, tapi warga Palestina masih menahan diri dari melakukan eskalasi situasi keamanan bahkan ketika kedutaan besar AS dipindah ke Al-Quds (Yerusalem), atau setelah sejumlah besar warga Palestina di Gaza gugur dalam aksi pawai The Great March of Return, atau ketika para tahanan Palestina melakukan aksi mogok makan dalam skala besar.

Baca: Jelang Hari Quds, Presiden Iran Desak Masyarakat Internasional Keluarkan Israel dari Tanah Palestina

Menurut Haaretz, meskipun jumlah orang Palestina yang terpapar Covid-19 relatif sedikit, yaitu 375 orang dan dua meninggal dunia, namun dampaknya secara ekonomi fatal bagi otoritas Palestina sehingga juga menimbulkan kekhawatiran di badan keamanan Israel, yang dalam beberapa tahun terakhir ini dikaitkan dengan situasi Tepi Barat yang relatif tenang serta membaiknya kondisi ekonomi Palestina. (mm/raialyoum)

DISKUSI: