Bashar Al-Assad: Di Jantung Peperangan, Suriah Harus Beralih ke Tahap Ofensif

0
348

Damaskus, LiputanIslam.com –  Presiden Suriah Bashar Al-Assad menyatakan bahwa negaranya harus beralih ke tahap ofensif dan sekarang sedang melakukan apa yang dapat dilakukannya untuk perkembangan di semua bidang.

“Suriah yang berada di jantung peperangan melakukan apa yang bisa untuk pengembangan di bidang-bidang militer, ekonomi, keorganisasian dan ideologi,” ungkap Al-Assad dalam kata sambutannya saat berkunjung ke Akademi Tinggi Militer di Damaskus di hadapan para lulusan perwira.

Tentang AS yang menduduki sebagian wilayah Suriah dia mengatakan, “AS disebut-sebut telah menghabiskan satu triliun Dolar di Irak, menghabis sekian triliun Dolar di Afghanistan, untuk siapa ia menghabiskan triliunan itu? Untuk bangsa Irak, untuk bangsa Afghanistan? Ia menghabiskannya pada perusahaab-perusahaan AS sendiri, pasokan senjata, suplai berbagai peralatan.”

Al-Assad menambahkan, “Jadi, operasionalisasi perang adalah Dolar bagi orang-orang AS, dan dolar ini tertuang pada kepentingan perusahaan-perusahaan AS. Karena itu, sudah semestinya kita menduga bahwa setelah kalah di Afghanistan, setelah kalah di Irak, setelah kalah di Somalia pada tahun 1994, dan setelah kalah di Vietnam masih akan ada peperangan dan kekalahan, dan Dolar tetap beredar pada ia sendiri.”

Dia lantas menegaskan, “Ini berarti bahwa di dunia yang gonjang-ganjing ini tak ada tempat kecuali untuk satu hal kecuali keteguhan. Negara-negara yang teguh dan menempuh jalan keteguhan adalah negara-negara yang menemukan tempat di dunia ini, baik negara-negara kecil yang mencari posisi regional dalam kepentingan regional maupun negara-negara besar yang mencari posisi di kancah internasional. Dan bangsa-bangsa yang teguh akan menemukan tanah airnya. Tak ada keteguhan tak ada pula tanah air.”

Presiden Suriah melanjutkan, “Keteguhan yang saya bicarakan adalah keteguhan yang positif, dan keteguhan yang positif menyerupai kondisi defensif. Kita tak boleh bertahan teguh dalam pengertiannya yang negatif dan defensif, melainkan harus beralif ke ofensif. Dan inilah yang saya katakan dalam pidato pengangkatan sumpah, bahwa kita akan melakukan pengembangan, kita tak menunggu berakhirnya pertempuran, dan tidak mengatakannya ketika pertempuran sudah berakhir, atau perang berhenti baru kita melakukan sesuatu, melainkan di jantung peperangan kita melakukan apa yang dapat dilakukan demi pengembangan.” (mm/raialyoum)

Baca juga:

Sistem Pertahanan Udara Iran Mengincar Jet Tempur Israel di Negara-Negara Poros Resistensi

Fox News: 200 Tentara AS Tinggalkan Pangkalan Al-Tanf Sebelum Terjadi Serangan

DISKUSI: