Ayatullah Khamenei Tegaskan Persatuan Islam adalah “Prinsip, Bukan Taktik”

0
228

Teheran, LiputanIslam.com –  Pemimpin Besar Iran Ayatullah Sayid Ali Khamenei menyebut sejarah Maulid Nabi Besar Muhammad saw sebagai awal periode baru kehidupan manusia dalam menikmati anugerah Allah SWT, dan menegaskan bahwa persatuan umat Islam bukanlah taktik melainkan prinsip.

Dalam kata sambutan pada tatap muka dengan para pejabat senior Iran serta peserta Konferensi Persatuan Islam ke-35 di Teheran, ibu kota Iran, Ahad (24/10), Ayatullah Khamenei menegaskan bahwa persatuan umat Islam merupakan “fardhu” (kewajiban) yang ditekankan oleh kitab suci Al-Quran Al-Karim.

“Kami di Republik Islam (Iran) menekankan persatuan Muslimin adalah karena ada upaya-upaya berkelanjutan untuk menebar perpecahan antara Syiah dan Sunnah, karena isu Sunnah dan Syiah sudah lama dikemukakan dalam literatur politik AS,” terangnya.

Dia juga mengatakan, “Para antek bayaran AS akan terus menebar fitnah di dunia Islam di manapun mereka dapat melakukannya, dan contohnya yang paling jelas ialah peristiwa-peristiwa tragis di Afghanistan di mana dua masjid meledak ketika orang-orang Islam sedang menunaikan shalat.”

Menurutnya, ISIS sebagai pelaku utama peledakan itu “adalah kelompok yang Partai Demokrat AS pernah blak-blakan mengaku telah menciptakannya namun sekarang mereka memungkirinya”.

Ayatullah Ali Khamenei menilai pertemuan tahunan mengenai persatuan Islam belum cukup untuk diskusi, perencanaan, motivasi dan pembagian tugas di bidang ini secara kontinyu.

“Salah satu jalan untuk mencegah terulangnya tragedi seperti ini di Afghanistan ialah hadirnya para pejabat negara ini di pusat-pusat, masjid-masjid, atau memotivasi saudara-saudara Ahlussunnah untuk ikut serta dalam pertemuan-pertemuan bersama,” lanjutnya.

Dia juga menekankan bahwa peradaban baru Islam tak akan terwujud kecuali melalui persatuan Sunni dan Syiah.

Dia lantas menyinggung isu Palestina dengan mengatakan, “Indikator utama persatuan Muslimin adalah urusan Palestina di mana tindakan untuk pemulihan hak orang-orang Palestina akan andil serius dalam penguatan persatuan Islam.”

Dia juga menyebutkan bahwa upaya beberapa negara Arab dan Islam untuk normalisasi hubungan dengan Rezim Zionis Israel merupakan “kesalahan besar”. Dia mengimbau negara-negara itu berhenti melakukan “tindakan-tindakan yang bertolak belakang dengan persatuan Islam”.  (mm/alalam)

Baca juga:

[Video:] Persaudaraan Sunni dan Syiah di Iran, Pra dan Pasca-Revolusi Islam

Melalui Percakapan Telefon, Menlu Indonesia Undang Menlu Iran

 

DISKUSI: