Amnesti Internasional: Koalisi Arab Gunakan Senjata Buatan AS dalam Eskalasi di Yaman

0
202

London, LiputanIslam.com –   Lembaga Amnesty International menyatakan bahwa pasukan koalisi pimpinan Saudi telah menggunakan amunisi berpemandu presisi buatan Amerika Serikat (AS) dalam serangan udara pekan lalu terhadap sebuah pusat penahanan di Saadah, Yaman barat laut, yang menurut lembaga Doctors Without Borders, menewaskan sedikitnya 80 orang dan melukai lebih dari 200 lainnya.

Lembaga ini menyebutkan bahwa penggunaan bom berpemandu laser buatan perusahaan pertahanan AS Raytheon itu merupakan satu bukti baru dari sekian banyak bukti penggunaan senjata buatan AS “dalam insiden yang dapat dianggap sebagai kejahatan perang”.

Selama seminggu terakhir, koalisi pimpinan Saudi  tanpa henti menggempur Yaman utara dengan serangan udara, termasuk ibu kota, Sana’a, hingga menjatuhkan puluhan korban sipil dan menghancurkan infrastruktur dan sempat memutus layanan internet. Eskalasi tersebut menyusul serangan Yaman yang menyasar fasilitas minyak di Abu Dhabi, UEA, pada 17 Januari lalu.

“Gambar-gambar mengerikan yang mengalir keluar dari Yaman meskipun internet padam selama empat hari adalah pengingat yang menggelegar tentang siapa yang membayar harga yang mengerikan untuk penjualan senjata yang menguntungkan negara-negara Barat ke Arab Saudi dan sekutu koalisinya,” kata, Deputi Amnesty International Direktur Timur Tengah dan Afrika Utara, Lynn Maalouf, seperti dikutip situs resmi lembaga ini, Kamis (27/1).

“AS dan negara-negara pemasok senjata lainnya harus segera menghentikan pengiriman senjata, peralatan, dan bantuan militer kepada semua pihak yang terlibat dalam konflik di Yaman. Komunitas internasional memiliki tanggung jawab untuk menutup pintu bagi semua penjualan senjata yang memicu penderitaan warga sipil yang tidak perlu dalam konflik bersenjata,” lanjutnya.

Maalouf menambahkan, “Dengan secara sadar menyediakan sarana untuk koalisi pimpinan Saudi yang telah berulang kali melanggar hak asasi manusia internasional dan hukum humaniter, AS  bersama Inggris dan Prancis berbagi tanggung jawab atas pelanggaran ini.”

Pakar senjata Amnesty International menganalisis foto-foto sisa-sisa senjata yang digunakan dalam serangan di pusat penahanan tersebut dan mengidentifikasi bom itu sebagai GBU-12, bom dipandu laser seberat 500 pon yang diproduksi oleh Raytheon. (mm/amnestyinternational)

Baca juga:

Sebut Darah Orang Yaman Tak Murah, Sanaa: Serangan Selanjutnya ke UEA akan Lebih Mengerikan

UEA Diam-Diam “Memohon” kepada Sanaa supaya Yaman Tidak Melanjutkan Serangan

 

DISKUSI: