Afghanistan Mulai Dilanda Demo, Taliban Minta Para Imam Jumat Serukan Persatuan

0
273

Kabul LiputanIslam.com –  Gerakan Taliban mengimbau kepada para imam dan khatib Jumat di Afghanistan agar menyerukan persatuan pada shalat Jumat pekan ini, yang notabene shalat Jumat pertama sejak Taliban berhasil menguasai negara ini, sementara aksi demo unjuk rasa anti-Taliban mulai bermunculan di beberapa kota, termasuk Ibu Kota Kabul.

Seorang saksi mata di kota Asadabad mengatakan sejumlah orang tewas dan luka ketika para anggota Taliban melepaskan tembakan ke arah massa demonstran, namun tak jelas apakah para korban itu jatuh karena tembakan atau karena berdesakan.

Saksi mata lain mengatakan bahwa para anggota Taliban juga tembakan di dekat sebuah pawai unjuk rasa di Kabul, namun tembakan ke udara.

Dalam sebuah rekaman video yang viral di medsos terlihat sekelompok massa laki-laki dan perempuan meneriakkan yel-yel “bendera kita identitas kita” sembari mengibarkan bendera nasional Afghanistan pada HUT kemerdekaan negara ini dari Inggris pada 19 Agustus 1919.

Beberapa media melaporkan bahwa massa di beberapa aksi demo lain mengoyak bendera Taliban yang berwarna putih dan berlafad suci.

Sejauh ini belum ada komentar dari jubir Taliban terkait peristiwa tersebut. Dan meskipun jumlah massa di sebagian aksi itu tergolong kecil namun menjadi tantangan bagi Taliban, apalagi setelah terjadi peristiwa kekacauan di Bandara Kabul di mana ribuan orang berusaha kabur dari Afghanistan.

Laporan yang terbetik sejauh ini ialah bahwa Taliban, Kamis (19/8), mengimbau kepada para imam masjid agar sebelum shalat Jumat mengajak masyarakat kepada persatuan dan turut memberikan penjelasan kepada masyarakat bahwa mereka tidak perlu meninggalkan tanah air mereka.

Sejak memasuki Kabul, Taliban berusaha menampilkan wajah baru yang moderat kepada masyarakat dunia, antara lain dengan mengaku mendambakan perdamaian, tidak akan membalas dendam para bekas lawannya, dan menjunjung hak dan martabat kaum wanita sesuai syariat Islam.

Ketika berkuasa pada tahun 1996 hingga 2001, Taliban membatasi hak wanita, melakukan eksekusi-eksekusi hukuman mati secara terbuka, dan menghancurkan peninggalan sejarah berupa patung Buddha berukuran raksasa di Lembah Bamiyan.

Sementara itu, sebuah kelompok tertentu mengaku telah mengumpulkan data-data intelijen di Norwegia bahwa Taliban sekarang mulai menangkapi orang-orang Afghanistan yang nama mereka tercantum dalam daftar hitam Taliban yang dianggapnya telah bekerja sama dengan pemerintah Afghanistan sebelumnya atau dengan pasukan koalisi yang dipimpin Amerika Serikat. (mm/raialyoum)

Baca juga:

Para Tokoh Taliban Ikuti Peringatan Asyura di Mazar-i Sharif

Presiden Afghanistan yang Kabur Berlindung di UEA

DISKUSI: