PM Yaman: Normalisasi Negara-negara Arab dengan Israel Tak Bisa Lindungi Mereka

0
319

Sanaa,LiputanIslam.com-PM Yaman Abdulaziz bin Habtour menyatakan, Revolusi Yaman dilakukan sebagai bentuk penolakan terhadap hegemoni dan penindasan penjajah beserta kaki tangannya.

“Nasib para antek Inggris di masa lalu menanti para antek masa kini. Bangsa Yaman akan menghukum antek dan orang bayaran mana pun,”kata Bin Habtour kepada al-Masirah.

Ia menambahkan, UEA adalah boneka AS dan Inggris, sementara kehadiran Inggris di al-Mahrah bertujuan untuk memenuhi kepentingan Saudi terkait pipa minyak.

Bin Habtour menjelaskan, London berusaha mendapat akses ke perbatasan barat Oman dan memisahkannya dari Yaman. Ia menilai, UEA berupaya mewujudkan kepentingan-kepentingan geografisnya, sedangkan Saudi berencana untuk mewujudkan proyek-proyek ekonomi jangka panjangnya di Yaman.

Pembagian geografis saat ini di Semenanjung Arab dan negara-negara Arab disebut Bin Habtour sebagai bentuk dukungan untuk proyek Zionisme. Menurutnya, didudukinya pulau Socotra oleh UEA adalah bagian dari proyek tersebut.

Ia menyatakan, AS berniat menegosiasikan isu-isu kemanusiaan dengan isu-isu militer. Tujuannya adalah membuat Sanaa tunduk, meski secara lahiriah, dan setelah itu, menyelesaikan semua masalah.

PM Yaman menyebut Israel sebagai “rezim buatan yang berumur terbatas.” Ia menegaskan, bencana di negara-negara lemah Arab adalah karena mereka hanya mau tunduk kepada Rezim Zionis demi melanggengkan takhta mereka. Namun, tegas Bin Habtour, normalisasi hubungan dengan Israel tak bakal melindungi singgasana mereka.

Di akhir wawancara, Bin Habtour kembali menyatakan dukungan Yaman untuk isu Palestina. Dia berkata, rakyat Yaman memandang bahwa dukungan ini adalah “sebuah tugas sakral. Pembebasan Quds dan tanah Palestina juga merupakan sebuah isu utama dalam agama dan kultur Arab bangsa Yaman.” (af/fars)

Baca Juga:

Iran Mengaku Mulai Mengadakan Pembicaraan Baru dengan Saudi mengenai Yaman

Iran Peringatkan Israel Jangan Sampai Mencoba “Bertualang Militer” terhadap Iran

DISKUSI: