Maduro: Trump 2 Kali Ingin Menemui Saya, Tapi Dihalangi Pompeo dan Bolton

0
251

Caracas,LiputanIslam.com-Presiden Venezuela Nicolas Maduro mengaku, Presiden AS Donald Trump berniat untuk menemuinya, namun selalu dihalang-halangi oleh orang-orang di Pemerintahan AS.

Menurut laporan FreeNews, dalam wawancara dengan media lokal Venezuela, yang kemudian dipublikasikan di akun Twitter Maduro, ia mengatakan,”Trump dua kali berniat menemui saya. Salah satunya adalah pada September 2018 saat saya berada di New York. Kontak sudah dilakukan dan pertemuan bisa dikatakan sudah nyaris diwujudkan. Namun Mike Pompeo dan John Bolton mencegah pertemuan itu.”

Maduro menyatakan, selama masa 4 tahun kepresidenan Trump, para pejabat AS dan Venezuela masih menjaga hubungan melalui perwakilan kepresidenan dan kemenlu. Presiden Venezuela mengaku ia masih siap berunding dengan Washington.

Beberapa waktu lalu, PBB menyatakan Pemerintahan Maduro sebagai wakil Venezuela di organisasi internasional tersebut, bukan pemerintahan dari oposisi yang diketuai Juan Guaido.

Pemimpin oposisi Venezuela, Juan Guaido pada Januari 2019 lalu mendeklarasikan diri sebagai Presiden Venezuela dengan koordinasi Pemerintah AS. Washington dan sejumlah sekutu AS pun segera mengakui deklarasi sepihak tersebut.

Usai menyatakan dukungan untuk Guaido dan mengerahkan upaya untuk kudeta, Pemerintahan Trump menjatuhkan sanksi dan melancarkan perang media untuk menggulingkan Pemerintahan Maduro. Namun semua upaya Washington ini sia-sia belaka.

Maduro menyebut tindakan Guaido dan AS ini sebagai upaya untuk memicu kudeta di negaranya. Ia pun memutus hubungan diplomatik dengan AS. Dalam setiap perkembangan di Venezuela, Maduro mendapat dukungan dari Rusia, Iran, Belarusia, China, Kuba, Nikaragua, Suriah, dan Turki.

Salah satu bentuk dukungan Teheran terhadap Caracas adalah pengiriman BBM ke Venezuela, saat negara Latin itu mengalami krisis energi dan BBM akibat sanksi-sanksi Washington. (af/alalam)

Baca Juga:

Venezuela: Jika Diperlukan, Kami Secara Konstitusional Bisa Membeli Senjata dari Iran

Perseteruan Netanyahu-Gantz Meruncing, Tel Aviv Disebut Masuk Medan Ranjau

DISKUSI: