Iran Sebut Israel ‘Anak Emas’ IAEA

0
293

Teheran,LiputanIslam.com-Wakil Iran di organisasi-organisasi internasional di Wina, Kazem Gharibabadi menyatakan bahwa dalam 10 tahun terakhir, program nuklir negaranya selalu jadi bahan topik utama di Badan Energi Atom Internasional (IAEA). Padahal, katanya, tak ada satu pun bukti bahwa program nuklir Iran melenceng dari program damai yang sudah dicanangkan sejak awal.

Gharibabadi menyatakan, perkembangan dan kemajuan terbaru dalma perundingan antara Teheran dan IAEA tidak diungkap dalam laporan terbaru organisasi tersebut. Ia menilai, laporan terbaru IAEA hanya pengulangan dari laporan sebelumnya.

“Pengulangan semacam ini tidak urgen dan juga tidak konstruktif. Konten laporan didasari sumber-sumber yang tidak tepercaya, sehingga laporan ini tidak kredibel. Laporan ini juga tidak mencakup semua elemen dan aspek kerja sama dan kemajuan yang telah diraih secara menyeluruh. Oleh karena itu, laporan ini tidak memuaskan,” tandasnya.

Gharibabadi menyatakan, Iran bisa saja merevisi langkah transparan dan kerja sama Teheran dengan IAEA jika aksi sabotase dan teror terhadap ilmuwan nuklir Iran masih didiamkan oleh IAEA.

“Adalah sebuah humor pahit bahwa IAEA melalaikan program nuklir Israel di kawasan Timteng yang selalu bergejolak,” sindirnya.

Ia menegaskan, Israel telah melecehkan masyarakat internasional dengan enggan membuka semua fasilitas dan aktivitas nuklirnya kepada IAEA. Bahkan, lanjut Gharibabadi, Israel lebih dianakemaskan ketimbang negara-negara pemilik senjata nuklir lain. Sebab, negara-negara ini masih merupakan anggota NPT, sedangkan Rezim Zionis tidak menjadi anggota dari Perjanjian Nonproliferasi Nuklir tersebut.

Di akhir pembicaraannya, Gharibabadi menegaskan bahwa IAEA harus menjauhkan diri dari segala agenda politis dan mengambil tindakan transparan terkait penolakan Israel terhadap pengawasan IAEA atas program nuklirnya. (af/fars)

Baca Juga:

Intervensi AS Hambat Perundingan di Yaman

[Video]: Pertama Kali, Tentara Iran Unjuk Gigi di Samudera Atlantik

 

DISKUSI: