CIA Aniaya Para Tersangka Terorisme dengan Sadis

0
198

Washington,LiputanIslam.com – Dalam waktu dekat, terdapat sebuah buku yang akan dirilis. Buku itu berisi detail-detail baru terkait tindakan kejam Otoritas AS terhadap para tersangka terorisme.

Berdasarkan isi buku “The Forever Prisoner”, Middle East Eye melaporkan bahwa di tahun-tahun awal “perang AS untuk menumpas terorisme”, para petinggi CIA mengadakan rapat. Dalam rapat itu, mereka mendiskusikan apa yang mesti dilakukan terhadap orang-orang yang akan dianiaya dalam penjara CIA.

Setelah membahas sejumlah kesepakatan, termasuk mengurung para tersangka dalam tahanan, mengirim mereka ke negara lain, atau mengadili mereka, salah satu petinggi CIA bertanya, ”Kenapa mereka tidak dibunuh saja sekalian?”

Cathy Scott Clark, penulis buku tersebut, dalam sebuah seminar online pada Senin lalu berkata, ”Orang akan mendengar pembeberan (fakta) semacam ini. Saya menilainya sebagai hal-hal yang meresahkan.”

Buku ini berkaitan dengan seorang tahanan Guantanamo bernama Abu Zubaidah, yang sudah berkali-kali dianiaya. Sebagai contoh, dalam satu bulan dia pernah diperlakukan dengan cara penenggelaman buatan hingga 83 kali, atau digantung di langit-langit dalam keadaan telanjang, atau tidak diizinkan tidur selama 11 hari berturut-turut.

Abu Zubaidah (50 tahun) lahir di Palestina namun tumbuh dewasa di Saudi. Dia ditangkap di tahun 2002 dan diserahkan kepada CIA. Sejak awal, dia disebut sebagai salah satu petinggi al-Qaeda. Namun di tahun 2006, CIA menyimpulkan bahwa dia bahkan bukan anggota kelompok teroris ini. Meski begitu, hingga kini ia masih dipenjara di Guantanamo tanpa ada kejelasan soal pembebasannya.

Untuk menulis bukunya, Clark mewawancarai beberapa petinggi militer dan intelijen AS. Salah satunya adalah James Mitchell, yang merupakan salah satu perancang program penyiksaan CIA.

Selesai bertemu dengan Presiden AS, Joe Biden pada Juni tahun lalu, Presiden Rusia Vladimir Putin mengingatkan wartawan bahwa Guantanamo masih dibuka. CIA juga masih menyiksa para tahanan di penjara-penjara rahasia. Saat itu, Putin mengajukan pertanyaan ini, ”Apakah ini yang dinamakan HAM?”. (af/fars)

Baca Juga:

Komandan Pasukan Quds IRGC: Israel Terlalu Kecil untuk Menjadi Lawan Iran

Takut Gelombang Serangan Palestina, Warga Israel Berebut Izin Bawa Senjata Api

DISKUSI: