Soal Pandemi Corona, AS Kian Dicecar Ihwal Penutupan Laboratorium Fort Detrick

0
568

London, LiputanIslam.com –  Desakan kian menguat di China agar AS menjelaskan proses kemunculan virus corona (Covid-19) setelah jubir Kemlu China Zhao Lijian di Twitter mengisyaratkan bahwa tentara AS bisa jadi telah membawa virus itu ke kota Wuhan, China.

Pada ahli di China mendesak Gedung Putih menjelaskan ihwal penutupan laboratorium penelitian mikroba dan virologi yang bernaung di bawah Komando Medis Angkatan Bersenjata AS (U.S. Army Medical Command/MEDCOM) di kota Fort Detrick, Maryland, AS, pada akhir tahun lalu.

Website Global Times milik China mengutip pernyataan para ahli negara ini mengenai artikel yang diterbitkan oleh “New York Times”, pada tanggal 5 Agustus lalu, dengan judul “Penghentian Penelitian Bakteri Mematikan di Laboratorium Militer karena Masalah Keamanan.” Artikel ini menyebutkan bahwa  “kekhawatiran pemerintah mengenai keamanan” di laboratorium itu telah menyebabkan penghentian penelitian yang melibatkan mikroba berbahaya semisal virus Ebola.

Institut Penelitian Penyakit Menular Angkatan Bersenjata AS (US Army Medical Research Institute of Infectious Diseases/USAMRIID) di Fort Detrick saat itu mengumumkan bahwa penutupan itu kemungkinan akan berlangsung selama berbulan-bulan, dan memastikan tidak ada ancaman bagi kesehatan masyarakat, tidak ada infeksi pada staf, dan tidak ada kebocoran bahan berbahaya ke luar laboratorium.

Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit (CDC) saat itu mengumumkan pihaknya memerintahkan penghentian penelitian di Fort Detrick karena pusat ini “tidak memiliki sistem yang memadai untuk pemurnian air limbah” dari laboratoriumnya secara lebih aman.

CDC tidak memberikan banyak informasi tentang keputusan itu dengan dalih faktor “keamanan nasional”.

Lembaga ini mempelajari kuman dan racun yang dapat digunakan untuk mengancam tentara atau kesehatan masyarakat, menyelidiki wabah penyakit, dan melakukan proyek penelitian untuk lembaga pemerintah, universitas, dan perusahaan obat.

Para aktivis AS menerbitkan petisi di website Gedung Putih berupa permintaan klarifikasi mengenai alasan sebenarnya penutupan Fort Detrick, apakah ini terkait dengan Covid-19, dan apakah pihak berwenang AS menutupi kematian akibat virus ini dan menempatkannya pada kategori kematian akibat influenza.

Dalam konteks ini pula, para ahli China kembali mengangkat artikel penelitian yang diterbitkan oleh website jurnal ilmiah Nature pada tahun 2015, yang menyebutkan bahwa sekelompok ilmuwan telah bekerjasama dengan tentara AS menyalin sejenis virus korona.

Artikel itu menjelaskan bahwa setelah kemunculan virus SARS (2002-2003) dan Sindrom Pernafasan Timur Tengah (MERS), para ilmuwan diberitahu tentang risiko penularan lintas spesies yang mengarah pada penularan penyakit dan wabah di antara manusia.

Jadi, mereka mempelajari kelompok besar kelelawar di Cina, yang kemudian diketahui sebagai inkubator virus korona terbesar, tetapi mereka tidak dapat menularkannya ke manusia, karena mereka tidak memiliki “mahkota” khusus untuk dapat mengikat sel-sel ACE2 manusia. Tapi penelitian yang sedang berlangsung menunjukkan bahwa kelelawar Horseshoe membawa sejenis virus corona SARS yang dapat menular ke manusia, dan kemudian disebut virus SHC014-CoV.

Baca:  China Sebut Corona Diproduksi di AS Pada Tahun 2015, Pompeo Minta Beijing Tak Sebar Rumor

Untuk mendapatkan pemahaman yang lebih besar tentang virus ini, para ilmuwan menyalin wadah virus eksternal dengan mahkota di atasnya, dan memvaksinkannya pada tikus percobaan. Hasilnya menunjukkan bahwa virus ini memang mampu mengikat sel-sel ACE2 manusia, dan mereproduksi secara khusus dalam sel-sel sistem pernapasan manusia.

Baca: China Resmi Ungkap Dugaan Virus Corona di Wuhan Kiriman dari AS

Artikel  ini menyebutkan bahwa beberapa bahan, sampel, dan peralatan laboratorium yang digunakan dalam penelitian ini diperoleh dari USAMRIID, dan menyatakan bahwa belum ada bukti bahwa virus yang diujikan pada tikus itu sama dengan virus SARS-CoV-2, penyebab Covid-19, yang kini sedang mewabah. (mm/raialyoum)

DISKUSI: